KAB.GARUT | FOKUSPRIANGAN.ID – Ikatan Dai Indonesia (IKADI) menggelar Pelatihan 10.000 Khatib se-Indonesia pada Sabtu (24/10/2026). Kegiatan berskala nasional tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan kapasitas para khatib sekaligus menargetkan pencatatan rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) pada 2026.
Pelaksanaan kegiatan dilakukan secara hybrid, yakni luring dan daring. Pembukaan dipusatkan di Jakarta, sedangkan Pengurus Wilayah (PW) di tingkat provinsi serta Pengurus Daerah (PD) di tingkat kabupaten dan kota mengikuti kegiatan dari wilayah masing-masing.
Di Kabupaten Garut, pelatihan berlangsung di Aula Dinas Kesehatan Kabupaten Garut. Kegiatan tersebut diikuti jajaran pengurus PD IKADI Garut bersama 100 peserta yang berasal dari berbagai kalangan, mulai dari tokoh masyarakat, guru, ustaz hingga santri.
Dalam laporan panitia, disampaikan bahwa pelatihan ini menjangkau 38 provinsi, 416 kabupaten, dan 98 kota di Indonesia. Banyaknya peserta yang terlibat diharapkan menjadikan kegiatan tersebut sebagai salah satu agenda pelatihan khatib dengan partisipasi terbesar dan tercatat dalam rekor MURI tahun ini.
Ketua Umum IKADI dalam sambutannya menyampaikan bahwa pelatihan tersebut menjadi momentum bersejarah bagi pengembangan dakwah Islam di Tanah Air. Ia berharap kegiatan ini membawa manfaat luas bagi umat, bangsa, dan negara, sekaligus menjadi warisan kebaikan yang dapat dikenang oleh generasi mendatang.
Menurutnya, dakwah merupakan amanah mulia yang membutuhkan kesungguhan dan tanggung jawab. Mimbar Jumat, kata dia, memiliki peran strategis sebagai sarana menyampaikan pesan keagamaan, mengajak masyarakat meningkatkan kualitas ibadah, memperbaiki akhlak, serta memperkuat ketakwaan kepada Allah SWT.
Sementara itu, Ketua PD IKADI Kabupaten Garut, Nurkhalis Majid, menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta yang telah mengikuti pelatihan tersebut. Ia berharap kegiatan ini mampu memperluas wawasan dan memperdalam pengetahuan peserta dalam menjalankan dakwah amar makruf nahi mungkar.
Nurkhalis juga menyampaikan terima kasih kepada para narasumber yang telah berbagi ilmu dan pengalaman. Ia berharap materi yang diberikan dapat diterapkan dalam aktivitas dakwah di tengah masyarakat serta menjadi bekal bagi para khatib untuk menyampaikan pesan Islam secara lebih baik.
Pada sesi materi pertama, Drs. H. Asep Ridwan, M.Pd., memaparkan wawasan kebangsaan dan dakwah digital yang berlandaskan nilai-nilai rahmatan lil alamin. Ia mengajak peserta untuk terus meningkatkan kualitas diri, memperluas wawasan, serta memiliki tujuan hidup yang berorientasi pada kebaikan dunia dan akhirat.
Asep Ridwan menegaskan bahwa seorang Muslim perlu memiliki cita-cita luhur dan berusaha mewujudkannya melalui tindakan nyata. Menurutnya, semangat memperbaiki diri harus dimulai sejak sekarang, disertai upaya membangun keluarga yang baik dan memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar.
Ia juga menjelaskan bahwa sasaran dakwah harus dimulai dari diri sendiri, kemudian pasangan, keluarga, masyarakat, umat, bangsa, negara, hingga masyarakat internasional. Dalam lingkungan keluarga, seorang suami juga diharapkan mampu menjadi teladan yang baik bagi istri dan anak-anaknya.
Materi berikutnya disampaikan oleh Dr. Rully mengenai retorika dakwah. Dalam pemaparannya, ia menjelaskan bahwa dai memiliki tanggung jawab menyampaikan ajaran Islam yang membawa kedamaian, keselamatan, dan kasih sayang bagi seluruh alam.
Ia menerangkan bahwa retorika dakwah dapat diperkuat melalui tiga pendekatan, yakni bil hikmah, mauizah hasanah, dan jidal ahsan. Ketiganya menjadi landasan penting agar pesan dakwah dapat disampaikan secara bijaksana, menyentuh hati, serta dibangun melalui argumentasi yang baik.
Menurut Dr. Rully, seorang dai perlu memiliki kredibilitas dan mampu menjadi panutan bagi masyarakat. Nilai-nilai seperti jujur, amanah, cerdas, dan komunikatif harus tercermin dalam perilaku maupun cara menyampaikan dakwah.
Selain itu, dai dituntut memiliki kepekaan terhadap kondisi emosional dan sosial jamaah, sehingga pesan yang disampaikan dapat membangun empati, menumbuhkan harapan, serta memperkuat kesadaran spiritual. Penyampaian materi juga harus didukung argumentasi yang jelas dan dapat dipahami, dengan berlandaskan Al-Qur’an, sunah Rasulullah SAW, serta penalaran yang tepat.
Setelah seluruh materi selesai disampaikan, kegiatan dilanjutkan dengan praktik khutbah secara langsung oleh peserta. Sesi tersebut menjadi kesempatan bagi para calon khatib untuk menerapkan pengetahuan yang telah diperoleh sekaligus mendapatkan pengalaman dalam menyampaikan khutbah.
Agenda kemudian ditutup dengan diskusi mengenai tindak lanjut program IKADI di Kabupaten Garut dan penyerahan sertifikat kepada peserta pelatihan.
Melalui kegiatan ini, IKADI berharap lahir para khatib yang tidak hanya memiliki kemampuan berbicara di mimbar, tetapi juga berwawasan luas, berakhlak baik, serta mampu menyampaikan dakwah secara santun, bijaksana, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat.”Tutupnya.
