KAB.CIAMIS | FOKUSPRIANGAN.ID – Ratusan warga Dusun Citutut, Desa Dewasari, Kecamatan Cijeungjing menghadiri acara Maulid Nabi Muhammad SAW.
Kegiatan tersebut berlangsung pada Senin malam, 31 Agustus 2026 bertempat di lapangan RT 02 RW 05 dengan mengangkat tema “Meneladani Akhlak Rasulullah”.
Kegiatan diawali dengan lantunan salawat, pembacaan ayat suci Al Quran dan dzikir bersama. Kemudian dilanjutkan dengan sambutan.
Ketua DKM Walidatul Ikhlas, Agus Sujarwo dalam sambutannya mengapresiasi panitia yang telah mengadakan kegiatan tersebut.
Kegiatan yang sudah memasuki tahun kedua tersebut diharapkan menjadi jembatan untuk menjalin silaturahmi antar warga.
Agus berharap, kegiatan tablig akbar terus dilaksanakan pada setiap tahun.
“Saya punya azzam (cita-cita), ke depannya kita mengadakan tablig akbar satu dusun, dan semua unsur terlibat, tempatnya bisa di mana saja. Mudah-mudahan hari-hari tertentu, tidak selalu hari besar satu tahun sekali kita mengadakan tablig akbar,” kata Agus.
Senada dengan Agus, salah satu tokoh masyarakat Dusun Citutut, Yana mengharapkan agar kegiatan tablig akbar tersebut dapat semakin meningkatkan ukhuwah.
Di samping itu, melalui kegiatan Maulid Nabi juga dapat meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kepada Allah subhanahu wa ta’ala.
“Dengan acara ini mudah-mudahan menjadi wasilah untuk persatuan antar warga, kemudian meningkatkan kualitas keagamaannya,” ujar Yana.
Makna Tersirat dari Maulid Nabi
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang diselenggarakan oleh Karang Taruna Dusun Citutut menghadirkan penceramah Ustad Aby Mas’ud Khoirul Ibad, pengasuh Pondok Pesantren Khoirul Ijtima Amanah Kertabumi.
Dalam tausiyahnya, Ustad Aby Mas’ud mengajak jemaah untuk mencontoh akhlak Nabi Muhammad SAW. Ia juga mengajak untuk menelaah makna di balik Maulid Nabi.
Salah satu akhlak Nabi Muhammad SAW yang perlu dicontoh adalah dengan bersikap baik terhadap sesama, termasuk kepada non muslim.
Ustad Aby Mas’ud mencontohkan, sikap Rasulullah yang memperlakukan seorang kafir Quraisy dengan baik.
“Rasul punya kebiasaan setiap pagi menyuapi makanan kafir Quraisy. Padahal kafir Quraisy itu selalu membenci, mencaci, memaki bahkan selalu menjelekkan beliau. Tapi tiap pagi Rasul selalu berangkat menyuapinya,” katanya.
Sikap tersebut menandakan bahwa sebagai umat Nabi Muhammad tidak boleh mencaci dan memaki terhadap siapapun, bahkan termasuk kepada orang yang berbeda keyakinan.
Perilaku Rasulullah tersebut wajib ditiru dan dipraktikkan dalam kehidupan bermasyarakat. Hal itu juga sebagai penanda bahwa umat Islam mencintai Rasulullah.
“Kata Allah dalam Al Quran kalau kalian cinta kepada Kanjeng Nabi, cinta kepada Allah, maka ikuti Kanjeng Nabi,” tegas Pimpinan Ponpes Khoirul Ijtima Amanah.
“Inti dari peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW sebagaimana disebutkan dalam Al Quran surat Al Ahzab ayat 21: Laqad kana lakum fi rasulillahi uswatun hasanah. Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik,” sambungnya.
Ustad Aby Mas’ud pun mengingatkan agar peringatan Maulid Nabi bukan hanya sebatas seremonial, lebih dari itu harus memahami makna yang terkandung di dalamnya.
“Maulid Nabi bukan hanya diperingati secara jasmaniah Rasul tapi kita harus memperingati makna yang tersirat secara tauhid,” tegasnya.