Oleh : Ipan Zulfikri

Di negeri ini, ada satu kelompok yang terus-menerus diminta bekerja lebih keras, tapi nyaris tak pernah diperhatikan: perangkat desa. Mereka adalah tulang punggung layanan publik di akar rumput. Mereka bukan hanya pelayan masyarakat, mereka adalah penjaga sistem, operator data, pemadam konflik, pemungut pajak, penulis laporan, bahkan kadang menjadi pengasuh bagi birokrasi yang mandul.

Namun, apa imbalannya?
Penghasilan yang tak cukup untuk hidup layak, minim fasilitas, dan beban kerja yang terus menggunung akibat puluhan aplikasi dari pusat yang minta diisi, seolah desa ini adalah laboratorium eksperimen teknologi birokrasi.

Perangkat desa kini telah berubah menjadi korban dari sistem administrasi yang absurd. Alih-alih fokus pada pemberdayaan masyarakat dan pembangunan desa yang substansial, mereka tenggelam dalam pekerjaan remeh-temeh yang tidak memberikan nilai tambah bagi warga. Mereka dipaksa menjadi serba bisa tanpa diberikan dukungan layak. Negara memaksa mereka jadi mesin, tapi lupa mengisi bahan bakarnya.

Lebih tragis lagi, banyak dari mereka yang harus mengorbankan keluarga, waktu istirahat, bahkan kesehatan mental, demi mengejar laporan dan memenuhi target yang kadang tak masuk akal. Di balik senyum mereka saat melayani warga, tersembunyi kelelahan, ketertekanan, dan kadang keputusasaan.

Desa adalah miniatur negara. Tapi mengapa perhatian negara justru berhenti di gerbang kota?
Kalau perangkat desa lumpuh karena kelelahan sistemik, maka lumpuh pula cita-cita Indonesia dari pinggiran. Bagaimana kita bisa berharap pada pembangunan dari desa, jika fondasi manusianya saja kita biarkan runtuh?

Sampai kapan kita menutup mata atas ketidakadilan ini?
Sudah waktunya negara berhenti menjadikan perangkat desa sebagai alat pelengkap penderitaan birokrasi. Mereka butuh lebih dari sekadar ucapan terima kasih mereka butuh kesejahteraan nyata, pembinaan serius, dan pengakuan penuh.

Jika desa adalah masa depan bangsa, maka perangkat desa adalah penjaga masa depan itu. Dan masa depan tak boleh dibangun di atas keringat yang tak dihargai.