KAB.TASIK | FOKUSPRIANGAN.ID – Polres Tasikmalaya mengambil langkah tegas dan strategis untuk mencegah terulangnya kasus dugaan keracunan massal yang sempat melanda Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Kini, setiap menu makanan gratis yang akan dibagikan kepada masyarakat dan pelajar di Tasikmalaya wajib lolos uji laboratorium forensik dengan melibatkan dokter forensik dari kepolisian.
Prosedur ketat ini diterapkan untuk menjamin bahwa MBG benar-benar menyajikan gizi aman, alih-alih ancaman kesehatan.
Polres Tasikmalaya kini menerapkan prosedur operasional standar (SOP) yang sangat ketat untuk pengujian makanan. Tujuannya tunggal: mencegah insiden keracunan massal terulang kembali.
Setiap sampel menu dari Satuan Penyelenggara Program Gizi (SPPG) harus melalui pemeriksaan harian di laboratorium Polres Tasikmalaya. Pemeriksaan ini serius, melibatkan langsung tim dokter forensik kepolisian.
Dokter forensik melakukan uji kimia dan organoleptik untuk mendeteksi kandungan berbahaya pada setiap sampel makanan.
Jika hasil pengujian menunjukkan makanan tidak layak atau terdeteksi beracun, makanan itu dipastikan tidak akan didistribusikan kepada penerima manfaat.
Pengamanan pangan ini tdak hanya berfokus pada hasil akhir, melainkan mencakup seluruh mata rantai produksi. Tim Polres Tasikmalaya memeriksa tiga aspek penting dalam alur penyediaan makanan.
Pertama, mereka memastikan Proses Produksi dan Higienitas makanan memenuhi standar kesehatan yang ditetapkan. Kedua, tim menjamin pengemasan makanan agar tidak terjadi kontaminasi selama proses packaging
Terakhir, pengawasan pada saat Distribusi memastikan makanan tiba di tangan penerima manfaat dalam kondisi aman dan higienis.
Kasi Humas Polres Tasikmalaya, Aipda Triana Anggasari,. S.H., menegaskan bahwa SOP ketat ini mutlak dilakukan demi keamanan pangan. “Untuk mencegah keracunan massal, kami menerapkan SOP ketat pada setiap menu yang didistribusikan,” ujar Aipda Triana, Rabu (15/10/2025).
Penerapan SOP pengujian yang ketat ini diharapkan mengeliminasi kasus keracunan di Tasikmalaya secara total.
Lebih dari itu, langkah ini diharapkan menjadi model keamanan pangan yang dapat diadopsi program-program sosial serupa di daerah lain. “Dengan pengujian ketat ini, kami berharap program Makan Bergizi Gratis dapat berjalan aman, bebas dari kasus keracunan, sekaligus menjamin standar keamanan dan kualitas makanan yang tinggi bagi masyarakat,” tutupnya.