Reporter : Nur Azizah
JAKARTA | FOKUSPRIANGAN.ID – Ikatan Alumni Universitas Negeri Jakarta (IKA UNJ) kembali menunjukkan peran strategisnya dalam menjawab tantangan pendidikan nasional. Melalui Forum Diskusi Pedagogik #1, organisasi alumni ini mengangkat tema krusial: “Bagaimana Kurikulum Formal Merespons Bahaya Dunia Digital Secara Preventif: Pendidik sebagai Kompas Moral di Era Digital.”
Acara ini berlangsung secara hibrida pada Rabu, 26 Agustus 2026, bertempat di Ruang Sidang Dekan FMIPA, Gedung Hasjim Asjari Lt. 6, UNJ, serta disiarkan langsung melalui Zoom Meeting.
Rektor UNJ, Prof. Dr. Komarudin, M.Si., yang dalam hal ini diwakili oleh Dekan FMIPA UNJ, Dr. Hadi Nasbey, M.Si, menegaskan bahwa isu degradasi moral akibat disrupsi digital telah menjadi prioritas utama. Penegasan ini berlaku penuh dalam peta jalan pendidikan tinggi maupun dasar di Indonesia.
Reorientasi Kurikulum di Era AlgoritmaSebagai pimpinan universitas pencetak guru, Prof. Komarudin menyoroti kaku dan berbasisnya konten pada kurikulum formal saat ini. Menurutnya, kurikulum harus bertransformasi menjadi berbasis karakter dan ketahanan mental.
Di era saat algoritma media sosial lebih dominan membentuk pola pikir anak daripada buku teks, peran pendidik menjadi sangat vital. Pendidik bukan lagi sekadar melakukan transfer of knowledge, melainkan bertindak sebagai filter kritis dan penanam nilai humanisme yang tidak bisa digantikan oleh kecerdasan buatan (AI).
Benteng Spiritual dan Implementasi Kurikulum MerdekaForum ini juga membedah masalah dari berbagai sudut pandang praktisi lapangan:
Samsuriat, M.Pd (Kasi Pendidikan Madrasah Kemenag Kota Jakarta Utara): Menekankan integrasi literasi digital dengan nilai spiritualitas (akhlakul karimah). Pencegahan bahaya digital tidak cukup hanya dengan memblokir situs, melainkan harus memperkuat internal compass siswa agar memiliki imunitas moral.
Juwarto, M.Pd (Kasi Pendidik Dinas Pendidikan DKI Jakarta): Memaparkan aspek teknis Kurikulum Merdeka yang memberi ruang bagi guru untuk memasukkan modul keamanan digital. Tantangan utamanya adalah kesenjangan kebijakan dengan realitas kelas, sehingga diperlukan strategi konkret agar guru di Jakarta tidak gagap teknologi.
Ketua Umum IKA UNJ, Sugeng Suparwoto, M.T, yang diwakili oleh Wakil Ketua Umum 2, Zacky, menutup lingkaran diskusi dengan menekankan pentingnya kolaborasi pentahelix. Respons terhadap bahaya digital tidak bisa hanya dibebankan kepada sekolah atau pemerintah, melainkan butuh keterlibatan alumni.Diskusi strategis ini dipandu oleh Aan Harinurdin, M.PFis, Ketua Bidang Pedagogik PP IKA UNJ, yang berhasil mengemas konsep berat dari para pakar menjadi diskursus yang mengalir dan solutif.
Forum Diskusi Pedagogik #1 ini menjadi manifestasi nyata dari tagline #AlumniMengabdi. Di tengah badai cyberbullying dan krisis perhatian pada Gen Z dan Alpha, IKA UNJ mengirim pesan kuat: teknologi boleh berubah secepat kilat, namun guru sebagai penjaga gawang moral bangsa harus tetap kokoh di garda terdepan.