Reporter : Dede Irwan
KAB.CIAMIS | FOKUSPRIANGAN.ID – Kekeringan mulai menyulitkan warga di sejumlah wilayah Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Kondisi itu mendorong pemerintah daerah bersama kepolisian dan sejumlah lembaga memperkuat distribusi air bersih.
Salah satu wilayah yang mendapat bantuan berada di Desa Wangunjaya, dusun Campaka Kecamatan Cisaga, Kabupaten Ciamis, Kamis (20/8/2026).
Kapolres Ciamis, AKBP Eko Iskandar mengatakan, kepolisian bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), PDAM, dan pemerintah daerah tengah memetakan wilayah yang mengalami kesulitan air bersih.
Menurut dia, distribusi air sudah berlangsung hampir sebulan. Setiap hari, petugas mengirimkan air ke sejumlah titik yang membutuhkan.
“Setiap hari dari BPBD, PDAM, dan teman-teman kita mendroping air ke beberapa titik yang memang dibutuhkan masyarakat,” kata Eko.
Namun, upaya tersebut belum sepenuhnya mencukupi kebutuhan warga. Keterbatasan armada membuat distribusi air belum bisa menjangkau seluruh wilayah yang mengalami kekeringan.
Karena itu, Kapolres membuka ruang bagi relawan untuk ikut membantu proses distribusi. Menurut dia, penanganan kekeringan membutuhkan kerja bersama, terutama ketika kebutuhan air terus meningkat.
Untuk sementara, pemerintah menyiapkan tandon sebagai tempat penampungan. Petugas kemudian mengisi tandon tersebut melalui distribusi air dari BPBD, PDAM, maupun kepolisian.
Di sisi lain, pemerintah mulai memikirkan solusi yang tidak berhenti pada distribusi air. Kapolres mengatakan, pihaknya akan mendorong pencarian sumber air yang dapat dimanfaatkan warga dalam jangka panjang.
“Kita coba mendorong penyelesaian yang sifatnya jangka panjang, seperti bagaimana di satu titik itu ada sumber air yang bisa digunakan masyarakat,” ujarnya.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Ciamis, Ani Supiani mengatakan, desa yang mengalami kekeringan tidak perlu melewati prosedur panjang untuk mendapatkan bantuan air.
Warga atau pemerintah desa cukup melaporkan kondisi kekeringan kepada BPBD. Laporan dapat disampaikan melalui nomor layanan Pusdalops atau langsung kepada dirinya.
Setelah menerima laporan, BPBD akan melakukan asesmen. Jika kondisi memang membutuhkan bantuan, petugas segera mengirimkan air.
“Kalau memang desa yang warganya sudah mengalami kekeringan, silakan hubungi kami. Nanti kita asesmen, kita kirim,” kata Ani.
Menurut dia, surat permohonan tetap diperlukan untuk kebutuhan administrasi. Namun, surat tersebut dapat menyusul setelah laporan awal disampaikan.
Sebab, penanganan bencana tidak semestinya terhambat oleh birokrasi yang panjang.
“Untuk penanganan bencana itu tidak boleh menggunakan birokrasi yang panjang,” ujarnya.
Kepala Desa Wangunjaya, Dede Nuraeni mengapresiasi bantuan air yang diberikan kepada warganya. Ia berharap bantuan tersebut tidak hanya menyasar satu dusun, tetapi juga mengantisipasi wilayah lain yang berpotensi mengalami kekeringan.
Dede secara khusus meminta pemerintah menyediakan tandon di lokasi yang mudah dijangkau warga.
Permintaan itu muncul karena warga harus mengambil air dari lokasi yang cukup jauh. Kondisi tersebut menjadi persoalan bagi warga lanjut usia yang kesulitan membawa air secara mandiri.
“Saya hanya cukup satu dusun saja, jangan sampai dusun yang lain kekeringan. Cuma mungkin saya minta untuk tandon, karena ngambil airnya jauh dan banyak warga yang sudah lansia,” kata Dede.
Selama ini, warga Wangunjaya mengandalkan sumur gali untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun, sumber air tersebut ikut mengering ketika musim kemarau berlangsung.
Selain itu, terdapat sumber air dari Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS). Akan tetapi, sumber tersebut juga tidak luput dari dampak kemarau.
“Memang ada dari BBWS, cuma kalau musim kemarau kering, ya kering juga,” ujar Dede.
Karena itu, penyediaan tandon dinilai dapat menjadi solusi sementara untuk memudahkan warga memperoleh air bersih, sembari pemerintah mencari sumber air.
Sumber Berita : Humas Polres Ciamis