JAKARTA | FOKUSPRIANGAN.ID – Hubungan antara Pemerintah Indonesia dan Yaman dinilai memiliki akar sejarah yang kuat sejak masa awal migrasi pedagang Yaman ke Indonesia. Kedekatan itu tidak hanya di bidang perdagangan, tetapi juga dalam perjuangan kemerdekaan dan pembangunan bangsa. Hal ini mengemuka saat pertemuan Jurnalis Muslim dengan Duta Besar Yaman untuk Indonesia Salem Ahmed Abdulrahman Balfakeeh, di kantor kedutaan besar Republik Yaman Jl. Latuharhary No.16, RT.4/RW.4, Menteng, Kec. Menteng, Kota Jakarta Pusat, Jum’at sore (14/8/26).

‎Hal itu disampaikan dalam pertemuan setelah sebelumnya pihak Kedutaan besar Republik Yaman menandatangani nota kesepahaman kerjasama MoU dengan BPJPH ( Badan Penyelengara Jaminan Produk Halal) dalam rangka mendorong ekonomi halal Indonesia di persaingan tingkat Internasional.

Dalam pertemuan Jumat Sore itu dihadiri oleh perwakilan dari komunitas Yaman di Indonesia, Sya’adom, dengan para Jurnalis Muslim yang tergabung dalam organisasi PJMI (Persaudaraan Jurnalis Muslim Indonesia dan organisasi Serikat Jurnalis Muslim Indonesia (SAJID) dalam menguatkan kerja sama kedua negara.

‎Duta besar Republik Yaman, Salem Ahmed Balfakeh menjelaskan “bahwasanya ini telah menunjukkan eratnya hubungan yang terjadi antara pemerintah Yaman dan Indonesia. Sejarahnya telah mengakar sejak migrasi awal orang-orang Yaman yang datang ke Indonesia untuk berdagang, berdakwah dan mengajarkan agama Islam. Bahkan mereka telah menjadi warga negara Indonesia dan berkontribusi saat masa kemerdekaan maupun mengisi kemerdekaan,” tandasnya.

‎Disebutkan, saat ini terdapat sekitar 12 juta warga keturunan Yaman di Indonesia. Sejumlah tokoh keturunan Yaman juga pernah menduduki posisi strategis, termasuk di Kementerian Luar Negeri. Salah satunya adalah Almarhum Menteri Luar Negeri Indonesia, Ali Alatas, Mantan Menkeu Fuad Bawazier, Dan lain lain nya.

‎Dalam kesempatan itu juga dijelaskan bahwa peningkatan kerja sama di bidang pendidikan. Pihak Yaman telah bertemu dengan Menteri Pendidikan Tinggi, Direktur Kerja Sama Pembangunan Internasional, dan Wakil Menteri Luar Negeri untuk membahas pembukaan kembali beasiswa KNB/Kemendikbud untuk mahasiswa Yaman yang sudah nonaktif selama 3 tahun terakhir.

‎”Insya Allah tahun depan beasiswa KNB akan kembali aktif untuk Yaman. Selain itu, kami juga mengusulkan penandatanganan MoU antara Kementerian Pendidikan Yaman dan Indonesia agar lebih banyak mahasiswa Yaman bisa belajar di Indonesia,” jelasnya.

‎Selain itu, muncul ide untuk membentuk wadah alumni mahasiswa Indonesia yang pernah belajar di Yaman, guna mempererat jejaring dan kerja sama antar kedua negara. Pihaknya juga menyoroti kesamaan kurikulum pendidikan Islam di Yaman dengan Indonesia sebagai dasar penguatan kerja sama.

‎Terkait pertanyaan mengenai peran Iran di Timur Tengah, ditegaskan bahwa tidak benar jika Iran adalah satu-satunya negara Muslim yang berani menentang imperialisme Barat. “Yaman bukan bagian dari itu,” tegasnya.

‎Konflik timur tengah disebut tak hanya Iran vs Barat, Menanggapi pertanyaan soal peran Iran, disampaikan bahwa tidak tepat menyebut Iran sebagai satu-satunya negara Muslim penentang Barat. Konflik di kawasan itu disebut jauh lebih kompleks, mencakup kepentingan politik, ideologi, dan ekonomi berbagai negara.

‎Pertemuan ditutup dengan harapan agar kerja sama Indonesia-Yaman di berbagai bidang, khususnya pendidikan dan kebudayaan, dapat terus diperkuat untuk generasi sekarang dan mendatang.”Pungkasnya.