Reporter : Nur Azizah

DEPOK/JABAR | FOKUSPRIANGAN.ID – Semangat membangun lingkungan yang bersih, sehat, dan produktif terus tumbuh di kawasan TTBTH. Hal ini terlihat dalam kegiatan “Sosialisasi Pengelolaan Sampah Berbasis Sumber dan Budidaya Melon” yang dihadiri oleh Pengurus RT 001/08, Pengurus TTBTH, dan warga setempat.

Bertempat di Mushola As Shofa Komplek Perumahan TTBTH, kegiatan berlangsung secara interaktif melalui diskusi, pemaparan materi, dan berbagi pengalaman terkait pengelolaan sampah rumah tangga serta pengembangan urban farming sebagai bagian dari upaya mewujudkan kawasan yang mandiri dan berkelanjutan.

Dalam paparannya, M Dahri sebagai penggiat urban farming, di Jakarta Barat menjelaskan kondisi terkini pengelolaan sampah di Jakarta, termasuk tantangan yang dihadapi TPST Bantar Gebang yang saat ini telah melebihi kapasitas ideal dan menghadapi berbagai risiko lingkungan. Atas permasalahan tersebut di Jakarta, warga TTBTH Depok, didorong untuk mulai melakukan pemilahan sampah dari sumbernya sebagai langkah nyata menjaga keberlanjutan lingkungan.

Materi yang disampaikan menekankan pentingnya pemilahan sampah menjadi empat kategori utama, yaitu sampah organik, anorganik, limbah B3 rumah tangga, dan residu. Pendekatan ini menjadi bagian dari strategi pengelolaan sampah berkelanjutan yang mengedepankan kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat.

Warga TTBTH, juga mendapatkan pengetahuan mengenai berbagai metode pengelolaan sampah organik seperti penggunaan komposter, biopori, dan budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF). Sementara itu, sampah anorganik diarahkan untuk dikelola melalui bank sampah dan kegiatan daur ulang yang memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat.

Selain isu lingkungan, kegiatan ini juga menghadirkan narasumber dari Latar Babe yaitu Arif Adjir, penggiat budidaya melon di Jakarta Selatan, membawakan materi Budidaya Melon yang disampaikan sebagai bagian dari program penguatan ketahanan pangan keluarga dan urban farming. Warga TTBTH, diperkenalkan pada teknik budidaya melon mulai dari pemilihan benih, penyemaian, media tanam, pemeliharaan, pemangkasan, hingga teknik panen yang dapat diterapkan pada lahan terbatas di lingkungan perkotaan.

Narasumber menjelaskan bahwa budidaya melon memiliki sejumlah keunggulan, antara lain efisiensi penggunaan lahan, kemudahan perawatan, penghematan air dan pupuk, serta mampu mempercantik lingkungan rumah. Dengan teknik budidaya yang tepat, melon dapat dipanen dalam waktu sekitar 65 – 75 hari setelah tanam.

Ketua Pengurus TTBTH, Frichman, menyampaikan apresiasi atas antusiasme warga yang mengikuti kegiatan hingga selesai. Ke depan, hasil sosialisasi ini akan ditindaklanjuti melalui pembentukan program-program konkret seperti penguatan bank sampah, pembuatan komposter komunal, serta pengembangan kebun melon dan tanaman pangan lainnya di kawasan TTBTH.”Ucapnya

Selaras dengan hal tersebut, Penanggung jawab kegiatan Haris Iriyanto, mengatakan bahwa kegiatan ini dilakukan sebagai bentuk edukasi kepada warga dalam mengelola sampah dari sumber dan melakukan urban farming bersama-sama seluruh warga Komplek TTBTH dan sekitarnya, agar tercipta lingkungan yang bersih, hijau dan asri.

Kegiatan ini menjadi langkah awal dalam pengembangan kawasan TTBTH sebagai pusat edukasi lingkungan yang mengintegrasikan konsep Bank Sampah, Urban Farming, dan Ekonomi Sirkular. Melalui kolaborasi seluruh elemen warga TTBTH dan masyarakat sekitar, diharapkan tercipta lingkungan yang bersih, produktif, dan mampu memberikan manfaat ekonomi bagi warga.”Tutupnya.