KAB.CIAMIS | FOKUSPRIANGAN.ID – Ancaman judi online, pinjaman online ilegal, hingga derasnya arus konten negatif di ruang digital kini menjadi tantangan serius dalam mewujudkan Generasi Emas Indonesia 2045. Menyadari kondisi tersebut, Pemerintah Kabupaten Ciamis mengambil langkah nyata dengan menggandeng Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Komisi XI DPR RI meluncurkan Gerakan Edukasi Keuangan Inklusif untuk Sekolah (GENIUS) sebagai upaya membangun generasi yang cerdas finansial, berkarakter, dan tangguh menghadapi tantangan zaman.
Peluncuran program tersebut berlangsung di Aula Sekretariat Daerah Kabupaten Ciamis, Rabu (29/07/2026), dihadiri Bupati Ciamis Dr. H. Herdiat Sunarya, M.M., Kepala OJK Tasikmalaya Nova Hermawati, Anggota Komisi XI DPR RI Dr. Shohibul Imam, CPA, para kepala sekolah, tenaga pendidik, serta berbagai pemangku kepentingan di bidang pendidikan dan keuangan.
Bupati Ciamis, Herdiat Sunarya, menegaskan bahwa kehadiran Program GENIUS merupakan bentuk komitmen pemerintah dalam memperkuat literasi keuangan sekaligus melindungi generasi muda dari berbagai ancaman digital yang semakin kompleks.
Menurutnya, kemajuan teknologi memang membawa banyak manfaat, namun di sisi lain juga menghadirkan risiko besar apabila tidak diimbangi dengan kemampuan literasi, pengawasan, dan pendidikan karakter.
“Anak-anak kita hidup di era digital yang penuh peluang sekaligus tantangan. Karena itu, pemerintah, sekolah, keluarga, dan masyarakat harus berjalan bersama agar mereka mampu memilih mana yang baik dan mana yang harus dihindari,” ujar Bupati.
Herdiat mengungkapkan bahwa persoalan judi online dan pinjaman online ilegal kini tidak lagi hanya menyasar masyarakat umum, tetapi telah merambah kalangan ASN, tenaga pendidik, hingga generasi muda. Bahkan, dampak digitalisasi juga memicu meningkatnya berbagai persoalan sosial yang jauh lebih mengkhawatirkan.
Ia memaparkan bahwa sepanjang tahun 2025, Kabupaten Ciamis mencatat 83 kasus pelecehan seksual terhadap anak, dengan jumlah korban mencapai ratusan orang. Lebih memprihatinkan lagi, kasus tersebut telah terjadi mulai dari jenjang SD, SMP hingga SMA.
“Ini menjadi alarm bagi kita semua. Dampak negatif digital bukan hanya soal judi online atau pinjaman online, tetapi juga menyentuh persoalan moral dan keselamatan anak-anak kita. Karena itu pendidikan karakter harus berjalan seiring dengan literasi digital dan literasi keuangan,” tegasnya.
Meski tantangan yang dihadapi semakin berat, Herdiat tetap optimistis bahwa semangat gotong royong yang menjadi karakter masyarakat Ciamis merupakan modal utama dalam membangun generasi berkualitas.
Ia mencontohkan keberhasilan Kelurahan Sindangrasa yang berhasil menjadi Kelurahan Terbaik di Jawa Barat meski memiliki anggaran yang relatif kecil. Demikian pula keberhasilan Kabupaten Ciamis meraih penghargaan sebagai Kota Kecil Terbersih di ASEAN, yang menurutnya lahir bukan karena besarnya anggaran, melainkan karena kesadaran kolektif masyarakat dalam menjaga lingkungan.
“Prestasi besar tidak selalu lahir dari anggaran besar. Yang paling penting adalah kepedulian, kebersamaan, dan partisipasi masyarakat. Semangat inilah yang harus kita tanamkan kepada generasi muda,” ungkapnya.
Sementara itu, Kepala OJK Tasikmalaya, Nova Hermawati, menyampaikan bahwa edukasi keuangan sejak usia sekolah merupakan investasi penting untuk menciptakan generasi yang mandiri secara ekonomi.
Ia mengungkapkan data yang menunjukkan tingginya tingkat kerentanan generasi muda terhadap kejahatan finansial.
“Saat ini sekitar 60 persen pengguna judi online berasal dari kalangan Milenial dan Gen-Z. Bahkan sekitar 82 persen pengguna media sosial telah terpapar judi online. Kondisi ini menjadi perhatian serius yang harus ditangani bersama,” jelas Nova.
Selain judi online, OJK juga masih terus menangani berbagai praktik investasi ilegal. Di wilayah Tasikmalaya sendiri, Satgas PASTI telah menindaklanjuti sedikitnya enam kasus investasi bodong.
Melalui Program GENIUS, OJK berharap sekolah dapat menjadi pusat pembentukan budaya literasi keuangan sehingga para pelajar memiliki kemampuan mengelola keuangan secara sehat sejak dini serta mampu menghindari berbagai bentuk penipuan finansial.
Pada kesempatan yang sama, Anggota Komisi XI DPR RI, Dr. Shohibul Imam, CPA, menegaskan dukungan DPR RI terhadap berbagai kebijakan yang memperluas akses keuangan yang sehat sekaligus memperkuat perlindungan masyarakat.
Ia mengungkapkan bahwa berdasarkan data OJK, sebagian besar masyarakat yang terjerat pinjaman online justru berasal dari kalangan tenaga pendidik.
“Guru merupakan profesi yang sangat mulia. Karena itu jangan sampai kemudahan akses digital justru membawa mereka masuk ke jeratan pinjaman berbunga tinggi untuk kebutuhan konsumtif. Literasi keuangan menjadi kebutuhan yang sangat mendesak,” ujarnya.
Sebagai mitra kerja OJK, Bank Indonesia, dan Lembaga Penjamin Simpanan, DPR RI, lanjut Shohibul, terus mendorong implementasi regulasi yang mampu memperluas akses pembiayaan produktif bagi UMKM, mengevaluasi bunga pinjaman agar lebih terjangkau, serta menyempurnakan kebijakan terkait Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) agar masyarakat tidak terhambat memperoleh akses pembiayaan akibat tunggakan dalam jumlah kecil.
Mengakhiri sambutannya, Shohibul mengajak seluruh peserta untuk membangun budaya menabung dan mengelola keuangan secara bijak sebagaimana nilai-nilai yang diajarkan dalam Surah Yusuf ayat 47.
Melalui kolaborasi Pemerintah Kabupaten Ciamis, OJK, DPR RI, dunia pendidikan, serta seluruh elemen masyarakat, Program GENIUS diharapkan menjadi fondasi kuat dalam mencetak generasi yang tidak hanya cakap secara akademik, tetapi juga memiliki kecerdasan finansial, karakter yang kokoh, serta mampu menghadapi tantangan era digital menuju terwujudnya Generasi Emas Indonesia 2045. (Dede Irwan)
Penulis Berita : Diskominfo Ciamis
Sumber : PortalCiamisKab