Oleh: Ipan Zulfikri
Belum lama ini saya membaca sebuah meme sederhana. Isinya hanya tiga kalimat.
“Kalau orang lain bisa, saya juga harus bisa.”. “Kalau orang lain bisa, kenapa harus saya?”. Lalu ditutup dengan kalimat yang lebih satir, “Kalau kamu bisa, sekalian kerjakan punya saya.”
Saya tersenyum. Namun, setelah itu saya justru termenung.
Sebagai kepala sekolah, saya tidak melihat meme itu semata-mata sebagai humor. Saya melihatnya sebagai cermin yang patut direnungkan.
Saya hidup pada masa ketika mencari jawaban berarti membuka buku, bertanya kepada guru, berdiskusi dengan teman, atau mencoba berkali-kali hingga berhasil. Hari ini, jawaban hadir hanya dalam hitungan detik. Mesin pencari dan kecerdasan buatan (AI) mampu menyusun esai, membuat presentasi, bahkan memecahkan soal-soal yang dahulu membutuhkan proses panjang.
Saya tidak menolak AI. Sebaliknya, saya percaya teknologi adalah keniscayaan yang harus dimanfaatkan dalam pendidikan. Namun, saya mulai bertanya: apakah kita sedang mendidik anak untuk berpikir, atau hanya mengajarkan mereka menemukan jawaban tercepat?
Di sekolah, saya semakin sering menemukan peserta didik yang ingin memperoleh hasil tanpa menikmati proses. Sebelum mencoba, mereka bertanya siapa yang bisa mengerjakannya. Sebelum berpikir, mereka mencari siapa yang memiliki jawabannya.
AI menjadi alat yang luar biasa, tetapi dalam banyak kesempatan justru berubah menjadi jalan pintas untuk menghindari proses belajar.
Yang hilang bukan sekadar kemampuan mengerjakan tugas. Yang perlahan memudar adalah rasa ingin tahu, keberanian mencoba, dan daya juang ketika menghadapi kesulitan. Padahal, sejarah kemajuan manusia dibangun oleh mereka yang berani gagal, bukan oleh mereka yang selalu menemukan jawaban instan.
Saya sering membayangkan sebuah situasi sederhana. Bagaimana jika suatu hari listrik padam? Internet terputus? AI tidak dapat diakses? Apakah anak-anak kita masih mampu memecahkan persoalan dengan ilmu yang benar-benar mereka pahami? Ataukah mereka kehilangan arah karena terlalu lama bergantung pada teknologi?.
Pertanyaan ini bukanlah penolakan terhadap kemajuan. Justru sebaliknya, ini adalah ajakan agar kemajuan tidak membuat manusia kehilangan kemampuan dasarnya. Sekolah seharusnya tidak hanya menghasilkan lulusan yang mahir menggunakan teknologi. Sekolah harus melahirkan manusia yang tetap mampu berpikir ketika teknologi tidak tersedia.
Di sinilah peran guru menjadi semakin penting. Guru bukan sekadar penyampai materi. Guru adalah pembentuk karakter. Tugasnya bukan hanya memberikan jawaban, melainkan membangun keberanian untuk mencari jawaban melalui usaha, kerja keras, dan ketekunan.
AI mungkin mampu menjawab hampir semua pertanyaan. Namun AI tidak dapat menggantikan kejujuran, tanggung jawab, empati, disiplin, serta ketangguhan yang dibentuk melalui proses pendidikan.
Mungkin inilah saatnya kita menggeser orientasi pembelajaran. Bukan lagi sekadar mengejar nilai tertinggi, melainkan membangun manusia yang memiliki daya juang tertinggi. Karena pada akhirnya, masa depan tidak hanya dimenangkan oleh mereka yang paling cerdas menggunakan teknologi, tetapi juga oleh mereka yang tetap mampu berpikir, bekerja, dan bertahan ketika teknologi tidak lagi bisa diandalkan.
Kemajuan teknologi adalah keniscayaan. Tetapi menjaga kemanusiaan melalui pendidikan adalah pilihan yang harus terus kita perjuangkan.
Ipan Zulfikri
Kepala SMP Asysyaakiriin Rajadatu, Tasikmalaya
Iklan Ucapan Hut RI Ke 81 Tahun