Reporter: Dede Irwan

โ€Œ๐Ÿ‡ฐโ€Œโ€Œ๐Ÿ‡ฆโ€Œโ€Œ๐Ÿ‡งโ€Œ.โ€Œ๐Ÿ‡นโ€Œโ€Œ๐Ÿ‡ฆโ€Œโ€Œ๐Ÿ‡ธโ€Œโ€Œ๐Ÿ‡ฎโ€Œโ€Œ๐Ÿ‡ฐโ€Œ|FOKUSPRIANGAN.ID – Perayaan HUT Bhayangkara ke-80 yang digelar Brimob Batalyon D Pelopor Cineam, Kabupaten Tasikmalaya, menghadirkan nuansa berbeda dengan menampilkan beragam seni dan budaya lokal. Setelah sebelumnya disuguhkan pertunjukan wayang golek dan pencak silat, malam harinya masyarakat disuguhi ritual sakral Ngaruwat serta atraksi seni debus yang sarat nilai tradisi.

Penampilan ritual Ngaruwat dan seni debus dipercayakan kepada Majelis Adat Galuh Raya (MAGAR) di bawah pimpinan Raden Haji Wahyu. Keterlibatan komunitas adat tersebut menjadi bagian dari upaya melestarikan budaya lokal sekaligus mempererat sinergi antara aparat kepolisian dan masyarakat.

Komandan Brimob Batalyon D Pelopor Cineam, Kompol Adjang Suhendar, mengatakan peringatan HUT Bhayangkara ke-80 sengaja dirancang sebagai ruang kolaborasi bagi para pelaku seni dan budaya di wilayah Priangan Timur.

“Kami memberikan kesempatan kepada masyarakat seni dan budaya untuk berkontribusi memeriahkan HUT Bhayangkara ke-80. Siang tadi ditampilkan pencak silat, kemudian malam hari beberapa kasepuhan melaksanakan tradisi Ngaruwat. Setelah itu masyarakat dihibur dengan penampilan seni debus sebagai bagian dari kearifan lokal,” ujar Adjang.

Menurutnya, pelestarian budaya merupakan tanggung jawab bersama. Karena itu, Brimob ingin menghadirkan perayaan yang tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga mampu mengangkat kekayaan budaya daerah agar semakin dikenal masyarakat.

Sementara itu, Ketua Majelis Adat Galuh Raya (MAGAR), Raden Haji Wahyu, mengaku bangga mendapat kepercayaan untuk mengisi rangkaian acara HUT Bhayangkara ke-80.

“Kami merasa terhormat dapat tampil dalam perhelatan besar HUT Bhayangkara ke-80. Selama ini tidak banyak ruang bagi penggiat adat dan budaya untuk bersinergi dalam kegiatan kenegaraan. Kesempatan ini menjadi motivasi bagi kami untuk terus melestarikan adat dan budaya di Tatar Galuh,” katanya.

Raden Haji Wahyu menambahkan, terbentuknya Majelis Adat Galuh Raya (MAGAR) menjadi tonggak penting bagi masyarakat adat dan budaya di wilayah Galuh Raya. Selama ini, menurutnya, berbagai komunitas adat dan budaya belum memiliki wadah yang mampu menyatukan aspirasi serta mengoordinasikan berbagai kegiatan pelestarian budaya.

“Dengan terbentuknya Majelis Adat Galuh Raya (MAGAR), kami mendapat dukungan yang luar biasa dari berbagai kalangan masyarakat adat dan budaya di Galuh Raya. Selama ini kami seperti anak ayam tanpa induk, tidak memiliki wadah yang menaungi. Alhamdulillah, sekarang wadah itu sudah terbentuk dan langsung mendapat kehormatan untuk terlibat dalam kegiatan besar HUT Bhayangkara ke-80 yang digelar Brimob Batalyon D Pelopor Cineam,” ujarnya.

Ia berharap keterlibatan MAGAR dalam kegiatan tersebut menjadi awal sinergi yang semakin kuat antara komunitas adat, pemerintah, dan institusi negara.

Menurutnya, kolaborasi semacam ini sangat penting untuk menjaga, merawat, dan mewariskan nilai-nilai budaya Tatar Galuh kepada generasi muda agar tetap lestari di tengah perkembangan zaman.

Dengan menghadirkan wayang golek, pencak silat, ritual Ngaruwat, hingga seni debus, peringatan HUT Bhayangkara ke-80 di Brimob Batalyon D Pelopor Cineam tidak hanya menjadi ajang hiburan masyarakat, tetapi juga menjadi momentum pelestarian warisan budaya Nusantara sekaligus memperkuat sinergi antara aparat kepolisian dan masyarakat adat.

Sumber Berita: