Reporter : Aep Saepudin
KAB.GARUT | FOKUSPRIANGAN.ID – Bertempat di Musieum Nyai Tangulun, Senin 6 Juli 2026 telah dilangsungkan acara kegiatan Sawala Budaya Sunda piken Ngalunsurken Pusaka Indung yang ke X.
Hadir dalam acara tersebut Ketua Umum PM GATRA, Rd. H. Holil Aksan Umarzen, Aep Saepudin, S.Ag Waketum IV bidang Pendidikan, Sosial & Budaya, Wanoja GATRA seperti Enok Sopiah, Lia Mulyanawati, Purwita, Elin dan Shinta Firgiani, Dari Humas Lely Heliawati, Rachmansyah dan Rido selaku MC.
Sementara dari unsur Pemerintaha hadir,. Marfu Nandar selaku Kepala Desa Ciwangi, Danramil Limbangan, Perwakilan dari Kapolsek Limbangan, Kepala Dinas Pariwisata – Kebudayaan Kab. Garut, Ir. H. Beni Yoga Gunawan, Perwakilan UPI sekaligus Dewan pakar KPWI Prof. Dr. Retty Isnendes, S.Pd. M.Hum dan Dewan Adat, Kang Cepi Kusumah
Dari unsur Budayawan hadir : YM. NR. Rulany Indra Gartika Rusadi, beliau adalah Ibu Agung Keraton Sumedang Larang yang juga menjabat sebagai Panglima Barisan Adat Raja Sultan
2. Ketua MCKN.(Majelis Cendikiawan Karaton Nusantara) Provinsi Jawa Barat.
2. Prof. H. Raden Asep Kadar Soleh dari Karaton Sumedang Larang
3. Mantri luar Keraton Sumedang Larang, Rd. Asep Sulaeman Fadil Adiwinata
4. Garda Yuda Balapati Karaton Sumedang Larang.
Dalam acara tersebut dimulai dengan pembacaan ayat suci alqur’an, menyanyikan lagu Indonesia raya, kawih dan pepeling Sunda, Laporan dari Tuan Rumah Nyai Tangulun, Sambutan Ketum PM GATRA, sambutan dari Kades Ciwangi, Kadisparbud Garut dan sambutan dari Ibu Agung Karaton Sumedang Larang.
Ani Suhartini yang biasa disebut Nyai Tangulun menyampaikan ucapan terimakasih dan penghargaan yang setinggi tingginya kepada para tamu undangan yang telah hadir dan ikutserta mensukseskan acara Sawala Budaya Sunda piken ngalunsurken Pusaka Indung, semoga dengan momentum ini dapat meningkatkan kepedulian dari semua pihak untuk kelestarian Budaya Sunda, khususon di Limbangan telah banyak peninggalan sejarah Pusaka Sunda yang menjadi Indung dari karuhun urang sadayana,” ujarnya
Sementara Kades Ciwangi menyampaikan “mohon maaf tidak bisa membantu secara maksimal untuk kegiatan ini, saya selaku Kepala Desa merasa bangga di Ciwangi telah berdiri Musieum Nyai Tangulun, semoga kedepan acara ini bisa lebih di tingkatkan baik sarana prasarananya maupun agenda kegiatannya,” imbuhnya.
Rd. H. Holil Aksan Umarzen selaku Ketua Umum PM GATRA dalam sambutannya mengatakan, “Kami mengucapkan terimakasih atas undangan dari Nyai Tangulun, walaupun ada beberapa kegiatan yang harus dihadiri, namun karena kegiatan ini merupakan bagian yang sangat penting Sawala Budaya Sunda, Ngalunsurken Pusaka Indung, sebagai Ketum PM GATRA merasa berkewajiban untuk mensukseskannya, namun mohon maaf belum bisa membantu secara maksimal karena PM GATRA belum memiliki anggaran, mudah-mudahan dengan kehadiran Kadisparbud Garut kedepan bisa menjadi perhatian bersama dari Pemkab. Garut untuk membantu kelancaran Sawala Budaya Sunda,” Paparnya.
Lanjut H. Holil Aksan bahwa kedepan urang Sunda kudu lebih maju dan serius dalam mempertahankan dan melestarikan budaya dan tradisi adat istiadat Sunda, Saya melihat hari ini urang Sunda sedang tidak baik-baik saja, untuk itu mari kita jadikan momentum Sawala Budaya Sunda piken ngabangkitken budaya leluhur karuhun Sunda. Tandasnya
H. Beni selaku Kadisparbud Garut dalam sambutannya menuturkan, “Mohon maaf Bupati Garut tidak bisa hadir karena ada acara rapat Paripurna DPRD Garut, Kami dari Disparbud Garut merasa bangga dan memberikan apresiasi kepada Nyai Tangulun yang telah konsisten dalam mempertahankan dan melestarikan budaya, adat istiadat dan tradisi ke-sundaan, i’m sya Allah kedepan bisa bekerjasama dan berkolaborasi untuk lebih di tingkatkan lagi kegiatan agenda rutin tahunan ngalunsurken Pusaka Indung,” cetusnya
Selesai acara seremonial dilanjutkan dengan prosesi ngalunsurken Pusaka Indung yang terdiri dari berbagai Pusaka Leluhur seperti Keris, Kudjang, Mushaf Al qur’an, Binokasi dan Barang-barang Pusaka lainnya.
Tidak lupa Nyai Tangulun memberikan beberapa bibit pohon kepada para tamu undangan yang hadir sebagai simbol dan isyarat kepada para pengambil keputusan baik eksekutif, legislatif dan para tokoh masyarakat yang bersama-sama menanam bibit pohon kepala, bibit bunga dan pohon lainnya, yang in sya Allah nantinya akan di panen oleh anak cucu kita.