KAB.TASIK | FOKUSPRIANGAN.ID – Di sebuah sudut wilayah Kabupaten Tasikmalaya, sebuah sekolah menengah pertama sedang menata arah baru. Bukan dengan membangun gedung megah atau fasilitas yang serba mewah, melainkan dengan membangun cara berpikir baru tentang pendidikan.

SMP Asysyaakiriin kini memulai proses transformasi yang berangkat dari sebuah keyakinan sederhana: setiap anak, di mana pun ia dilahirkan, berhak mendapatkan pendidikan yang mampu mempersiapkannya menghadapi masa depan.

Di bawah kepemimpinan Kepala Sekolah Ipan Zulfikri, S.Pd., M.P., sekolah ini mengusung visi mencetak generasi unggul yang bertumpu pada tiga pilar utama, yakni ilmu, iman, dan teknologi.

Bagi Ipan, perubahan zaman tidak bisa dihindari. Kecerdasan buatan, otomatisasi, dan teknologi digital telah mengubah hampir seluruh aspek kehidupan. Karena itu, sekolah harus mampu beradaptasi agar tidak tertinggal.

“Kalau dunia berubah, sekolah juga harus berubah. Namun perubahan itu tidak boleh menghilangkan jati diri pendidikan. Teknologi harus berjalan berdampingan dengan karakter dan nilai-nilai keimanan. Kami ingin melahirkan anak-anak yang cerdas, berakhlak, dan mampu menciptakan inovasi,” kata Ipan.

Komitmen tersebut diwujudkan melalui penerapan Project-Based Learning (PjBL). Dalam model pembelajaran ini, siswa tidak hanya menerima materi di ruang kelas, tetapi juga diajak menyelesaikan persoalan nyata melalui proyek yang mendorong kreativitas, kolaborasi, dan kemampuan berpikir kritis.

Transformasi itu juga akan diperkuat dengan hadirnya ekstrakurikuler Digital Creative dan Robotik. Melalui kegiatan ini, siswa akan diperkenalkan pada dunia pemrograman, desain digital, logika komputasi, serta robotika sebagai bagian dari keterampilan masa depan.

Namun bagi SMP Asysyaakiriin, robotik bukan sekadar merakit robot atau mengejar piala kejuaraan.

“Kami ingin siswa memahami manfaat teknologi dalam kehidupan sehari-hari. Robot dapat dimanfaatkan sebagai media pembelajaran, membantu sektor pertanian yang menjadi kekuatan daerah kami, mendukung dunia industri, hingga menjadi jalan bagi siswa untuk berprestasi melalui berbagai kompetisi robotik. Kami ingin anak-anak desa menjadi pencipta teknologi, bukan hanya pengguna teknologi,” ujar Ipan.

Untuk memperkuat program tersebut, SMP Asysyaakiriin berencana menjalin kerja sama dengan Persatuan Robotik Seluruh Indonesia (PRSI) dalam bidang pembinaan dan pengembangan robotika. Selain itu, sekolah juga akan menggandeng DCI Tasikmalaya sebagai mitra dalam pengembangan teknologi digital, peningkatan kompetensi guru, serta pendampingan program robotik bagi peserta didik.

Meski menghadirkan inovasi baru, sekolah memastikan berbagai kegiatan ekstrakurikuler yang telah menjadi bagian dari pembentukan karakter tetap menjadi prioritas. Pramuka, Palang Merah Remaja (PMR), kesenian, dan olahraga akan terus dikembangkan sebagai ruang bagi siswa untuk menumbuhkan disiplin, kepemimpinan, kepedulian sosial, kreativitas, dan semangat sportivitas.

Menurut Ipan, pendidikan yang baik bukan hanya menghasilkan siswa yang pintar secara akademik, tetapi juga manusia yang utuh.

“Kami tidak sedang membangun sekolah yang hanya mengejar nilai. Kami sedang berusaha membangun manusia. Manusia yang berilmu, beriman, mampu memanfaatkan teknologi, tetapi tetap memiliki kepedulian kepada sesama dan lingkungan.”

Ia mengakui bahwa langkah tersebut bukanlah pekerjaan mudah. Keterbatasan sarana, akses, dan berbagai tantangan masih menjadi kenyataan yang harus dihadapi. Namun, hal itu tidak menyurutkan optimisme seluruh warga sekolah.

“Kami ingin mematahkan anggapan bahwa sekolah di desa selalu berada di belakang. Kami percaya anak-anak di desa memiliki potensi yang sama dengan anak-anak di sekolah favorit. Mereka hanya membutuhkan kesempatan, pendampingan, dan keberanian untuk bermimpi lebih besar.”

Transformasi yang dilakukan SMP Asysyaakiriin bukan sekadar menghadirkan perangkat teknologi ke dalam sekolah, melainkan membangun budaya belajar yang relevan dengan perkembangan zaman tanpa meninggalkan akar nilai-nilai kemanusiaan.

Di tengah perubahan dunia yang begitu cepat, sekolah ini memilih untuk tidak menjadi penonton. Dari sebuah sekolah di pedesaan Tasikmalaya, SMP Asysyaakiriin ingin membuktikan bahwa masa depan tidak ditentukan oleh letak geografis, melainkan oleh keberanian untuk berubah, kemauan untuk terus belajar, dan keyakinan bahwa setiap anak Indonesia berhak mendapatkan kesempatan yang sama untuk menjadi luar biasa. (Red)