Reporter : Dede Irwan

KOTA TASIK | FOKUSPRIANGAN.ID – Ustadz Mumu dari Kota Tasikmalaya Jawa Barat mengungkapkan pentingnya muhasabah, instropeksi diri dalam konteks menyantuni anak-anak yatim.

Muhasabah membantu individu untuk lebih sadar akan tindakan dan niat mereka. Sedangkan menyantuni anak yatim merupakan memungkinkan seseorang untuk memahami betapa besar tanggung jawab mereka terhadap anak-anak yang membutuhkan perhatian dan kasih sayang.

Hal tersebut disampaikan Ustadz Mumu dalam Pengajian Bulanan (Pangaosan) sekaligus munggahan bersama 11 anak anak yatim yang terdiri dari yayasan Manarul Ulum Ciamis 6 orang dari Indihiang Kota Tasikmalaya 5 orang.

Dikatakannya, kita sebagai kaum muslimin ditengah-tengah kesibukan senantiasa diingatkan harus melakukan introspeksi diri dalam suasana hening untuk mengoreksi diri kita sendiri apa yang sudah kita lakukan selama ini.”Katanya Senin (16/02/25) saat memberikan tausiyahnya.

“Umur, jodoh, rejeki, dan kematian sebagai taqdir, digariskan oleh Allah. Umur kita dibatasi maka harus kita sering-sering instropeksi diri melihat amalan apa saja yang telah kita lakukan sebagai bentuk ibadah,” kata Ustadz Mumu mengutip Al Qur’an Surat Adz Dzariyat ayat 56 ‘Allah menciptakan manusia dan jin Semata-mata agar mereka beribadah kepada-Nya’.

“Komunikasi suami-istri yang baik adalah kunci dalam hubungan. Pasangan harus saling berbicara dengan sopan dan bijaksana,” ujarnya.

Menurut Ustadz Mumu, rejeki yang kita peroleh bukan hanya sebatas harta namun kesehatan serta nikmat-nikmat lain yang telah Allah berikan harus disyukuri.

“Mensyukuri rizki dan kesehatan adalah bagian penting dalam kehidupan spiritual dan fisik seorang Muslim. Mensyukuri dengan sepenuh hati berarti segala nikmat dan rezeki berasal dari Allah adalah langkah awal. Kesadaran ini membawa seseorang untuk menerima karunia dengan penuh keikhlasan, tanpa mengeluh,” bebernya mengutip Al qur’an Surat Ibrahim Ayat 7 ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat’.

Sedangkan kematian dalam Islam merupakan suatu ketentuan yang pasti dan dikehendaki oleh Allah untuk setiap makhluk, termasuk manusia.

“Dalam perspektif Islam, kematian bukan hanya akhir dari kehidupan dunia, tetapi juga merupakan transisi menuju kehidupan setelah mati,” ujarnya lagi.

Menyinggung tentang menyantuni anak-anak yatim Ustadz Mumu menilai sebagai tanggung jawab bersama maupun individu yang sangat mulia dan dianjurkan. Dalam ajaran Islam, anak yatim memiliki kedudukan khusus dan mendapatkan perhatian yang besar dari Allah SWT.”Tutupnya.