Pewarta : Aep Saepudin
KAB.GARUT | FOKUSPRIANGAN.ID – Salahsatu Nara Sumber yang menjadi pembicara pada acara Bedah Buku “Media & Islam Berkemajuan” Pada rangkaian Milad Muhammadiyah ke 113 di PDM Garut yang di gelar oleh MPI pada hari Senin, 24/11/25 di Aula IMDA Garut adalah Dr. Hj. Shinta Dewianty, M.E.Sy sebagai Wakil Rektor II IMDA (Institut Muhammadiyah Darul Arqom) Garut.
Dalam pemaparannya Dr. Shinta Dewianty mengatakan, “Buku ini hadir untuk mengisi kekosongan referensi mengenai peran para tokoh bangsa yang juga merupakan jurnalis Islam atau intelektual media, khususnya dari lingkungan Muhammadiyah. Dimana Fokus utamanya adalah: Menghubungkan Sejarah Pers Islam dengan Gerakan Pembaharuan, Memotret Jejak Pemikiran Tokoh, Menekankan Peran Media sebagai Superstruktur Sosial,” Ujarnya
Selanjutnya Wakil Rektor II IMDA Garut, menjelaskan bahwa. Media dan literasi dianggap integral dengan perintah “Iqra” (Bacalah), menjadikannya bukan sekadar alat, tetapi misi peradaban. dalam Islam, media dan informasi (diwakili oleh wahyu Iqra) menempati posisi sentral sebagai superstruktur yang membentuk struktur sosial dasar (basic structure). Pemikiran ini adalah antitesis terhadap pandangan Marxisme klasik, menegaskan pentingnya media sebagai fondasi peradaban Islam.
Gagasan Jurnalisme Profetik/Pencerahan yang dikaitkan dengan Islam Berkemajuan,” Ungkapnya
Lebih lanjut disampaikan Shinta Dewianty, bahwa Jurnalisme ini harus melampaui kepentingan pragmatis, berorientasi pada nilai-nilai ketuhanan, keadilan, kemanusiaan, dan pembebasan (liberation). Ini menolak sensasionalisme (bad news is good news) dan menekankan dakwah konstruktif (qaulan sadidan).
Jurnalisme Profetik adalah implementasi dari Ilmu Sosial Profetik yang bertujuan humanisasi yakni memanusiakan manusia, menolak dehumanisasi dalam pemberitaan dan berpihak pada kemanusiaan universal. Kemudian liberasi yakni pembebasan. Media berfungsi membebaskan umat dari belenggu kebodohan, kemiskinan, dan penindasan. Berikutnya transendensi yakni berorientasi Ketuhanan. Jurnalisme sebagai bentuk ibadah dan pertanggungjawaban spiritual dalam konteks media,” Tandasnya.
Di akhir pembicaraan Gender dari Persyarikatan Muhammadiyah Garut mengutarakan, “Jurnalis lintas generasi diantaranya: Haji Fachrodin sebagai jurnalis yang menggabungkan dakwah dengan pemberdayaan ekonomi (aplikasi Surat Al-Ma’un). Media digunakan untuk mempromosikan produk lokal dan mendorong kemandirian umat, menunjukkan bahwa kemajuan harus tercermin dalam aspek material dan sosial. Buya Hamka (spiritualitas dan karakter melalui sastra/tulisan) dan Ahmad Syafii Ma’arif (pluralisme, kebangsaan, dan kritik sosial). Keduanya menggunakan media (kolom, esai, buku) untuk membentuk pandangan dunia pembaca tentang Islam yang moderat, inklusif, dan progresif. peran Ketua Umum PP Muhammadiyah saat ini, Haedar Nashir, dalam memformulasikan dan mengonsolidasikan ideologi Risalah Islam Berkemajuan (RIB).” Tuturnya
Kebertahananan Media Islam bergantung pada 3 Peran utama: Mujaddid (Pembaharu): Media harus berani mendorong pemikiran kritis dan pembaruan, melawan stagnasi pemikiran keagamaan, dan menyuarakan ijtihad baru. Muwahid (Pemersatu): Media harus berfungsi sebagai perekat kebangsaan dan umat, menyebarkan narasi persatuan (ukhuwah), dan melawan fragmentasi serta narasi ekstrem. Mujtahid (Pemikir Solutif): Media harus mampu menganalisis masalah sosial, keagamaan, dan kebangsaan secara mendalam, serta menawarkan solusi yang berdasarkan pada nilai-nilai Islam Berkemajuan (humanisasi, liberasi, emansipasi).
Estapet perjuangan melalui media di era digital saat ini yakni menjadi jurnalis dan pengelola media harus lebih cerdas dari Artificial Intelligence (AI) dengan mengedepankan objektivitas, hati nurani, dan ijtihad. Media digital harus digunakan sebagai sarana utama dakwah pencerahan, bukan sekadar alat konsumsi hiburan belaka. Memaksimalkan Teknologi Informasi dan Komunikasi denagn Membuat konten edukasi, dakwah, dan layanan sosial yang marketable dan mudah diakses. jurnalis Islam tidak menjadi korban atau hanya operator Artificial Intelligence (AI), melainkan harus lebih pintar dari AI dengan mengedepankan objektivitas, ijtihad, dan hati nurani, maka Solusinya adalah menjaga kedalaman analisis dan integritas etika jurnalisme.” Pungkasnya