BUDAK ANGON ( ANAK GEMBALA ) Oleh : Ambu Rita Laraswati (Penulis, Pelukis dan Budayawati)

0

Budak Angon adalah sebutan dalam bahasa Sunda yang artinya adalah “Anak Gembala”. Makna dan artinya masih dalam bentuk siloka (Kata-kata simbolis) yang masih harus di cari pemaknaannya.

Kata Budak Angon merupakan kata yang ada dalam pesan karuhun Sunda yaitu Uga Wangsit Siliwangi dan Pantun Bogor. Dalam cerita Pantun Bogor yaitu Ngahyangna Pajajaran yang mengisahkan Prabu Siliwangi yang merupakan raja yang sangat sakti, gagah, dan penuh sifat welas asih. Dalam cerita tersebut Prabu Siliwangi mengucapkan wangsit atau pesan yang berisi nasehat dan petunjuk untuk melangkah kedepan dan tidak melihat ke belakang agar hidup dalam kejayaan kembali.

Kutipan kata Budak Angon dalam bait Uga Wangsit Siliwangi yaitu:
“Engke jaga bakal aya nu nyariar nyaroba-nyoba sugan kaguwar harayang nimu anu geus leungit, loba anu nyararoba harayang muka rahasiana pajajaran tapi moal eudeuk kabaruka sebab tulak na pageuh dikeukeuweuk Budak Angon “.

Artinya: “Tapi nanti akan ada yang mencari, mencoba siapa tahu terungkap dan menemukan yang telah hilang, banyak yang mencoba membuka rahasianya Pajajaran, tapi tidak akan bisa kebuka. Sebab kuncinya di pegang erat oleh Budak Angon”. (Husin Al Banjari,b: 109).

Budak Angon merupakan konsep untuk mencapai kepemimpinan dan kekuasaan dengan sifat dan karakter pemimpin yang penuh adab dan adat kewangian dan karakter sadurung winarah yaitu Spritual yang tinggi dan batin yang tajam yaitu
tahu yang akan terjadi pada masa depan.

Karakter yang paling kuat adalah
pemimpin yang adiluhung dalam kecerdasan, tinggi pengetahuan dan spritual yang tajam, menjadi manusia penerang. Dapat di artikan Budak Angon itu adalah diri Prabu Siliwangi itu sendiri. (Husin Al Banjari:b 112).

Uga Wangsit Siliwangi akan sangat di pahami makna dan tujuannya oleh yang mencetuskan wangsit itu sendiri.

Kita sebagai generasi zaman ini terutama generasi milenial/muda untuk dapat menjadi Budak Angon yang dapat menjadi pemimpin masa depan, maka jejak strategi dan konsep Prabu Siliwangi dapat di terapkan, sehingga dalam memimpin tercipta damai, tentram, adil dan gemah ripah loh jenawi mencapai puncak kejayaan lahir dan batin.

Keterangan Budak Angon banyak keterangan dan arti, makna dan keterangan yang semuanya keterangan yang baik dan banyak manfaat.

Dalam konsep leluhur Sunda Budak Angon adalah strategi dan konsep untuk menjadi manusia penerang, pencerah, pemimipin yang adil dan bijaksana. Budak Angon dalam Uga Wangsit Siliwangi bukan domba atau hewan ternak, tetapi lebih ke sifat-sifat kebaikan yaitu sabar, dermawan, menjaga lemah cai (tanah air), saling mengasihi sesama, sifat rasa kemanusian dan kepedulian yang besar.

Sifat kepemimpinan yang tegas dan disiplin, patuh, taat adalah sifat sinatria Sunda yang di ilham oleh kekuatan alam semesta atas ketaatan pada Tuhan yang dapat mensejahterakan manusia dan mahluk lain lahir dan batin.

Uga adalah agenda munculnya seorang pemimpin yang di usung oleh energi leluhur. Leluhur Sunda yang memiliki peran besar untuk menyusun dan mengusung bagaimana dan siapa yang akan menjadi Budak Angon.

Uga merupakan keterangan tentang agenda kedepan untuk di pakai menjadi rumus untuk menjadi Budak Angon, bukan ramalan yang klenik dan mistik. Uga ibarat pesan dan wasiat orang yang akan meninggal kepada keluarga yang di tinggalkan.
Konsep Budak Angon adalah model untuk munculnya pemimpin ideal untuk memimpin kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Baca Juga  Masuk Dalam Rangkaian HUT Banten ke 22, Golok Day Diharap Jadi Event Kelas Dunia

Kepemimpinan zaman kerajaan Sunda yang merupakan hasil keilmuan berbudi luhur yang diterapkan pada zaman dahulu dengan mencapai zaman Keemasan di antara nya:
Resi Guru Wretikandayun (kerajan Galuh 612-702), Prabu Darmasiksa (Sunda 1175- 1247), Prabu Niskala Wastu kencana
(Galuh 1371-1475), Prabu Siliwangi Sri Baduga Maharaja (Pajajaran 1481-1521)
(Husin M Al Banjari,b:13)

Tokoh-tokoh di atas Budak Angon pada zaman bihari, zaman dahulu. Konteks kepemimpinan Sunda memiliki sifat dan karakter pemimpin yang penuh kebaikan, kebijaksanaan, welasasih, adil dan tidak pernah menindas bangsa lain. Masa memimpin dengan kurun waktu yang lama sampai 100 tahun lebih.

Aplikasi kebaikan tidak membedakan agama, suku, rasa dan bangsa lain, terbuka dan menerima.

Pada kondisi sekarang model Budak Angon sangat di tunggu-tunggu dan di harapkan dapat di hadirkan sebagai pemimpin masyarakat, pemimipin negara.

Budak Angon dapat menjadi ajaran dalam membentuk dan mencetak calon pemimpin masyarakat, baik tingkat RT sampai Presiden.

Dalam kisah para Nabi yang tertulis dalam kitab- kitab dimana keterangannya para nabi tersebut dapat membawa gelap menuju terang, jahiliyah menjadi muslimin muslimah, mereka juga adalah Budak Angon pada zamannya (gembala).

Di era zaman para nabi, mereka adalah juru selamat, berdakwah, khalifah yang Tuhan tugaskan untuk memberi peringatkan umat manusia, membimbing manusia. Para nabi memiliki kelebihan dan keistimewaan yang diberian Tuhan.

Gembala sebagai penjaga dan pemelihara.
Dalam Alkitab Yohanes 10:4 yaitu, “Akulah gembala yang baik, sama seperti Bapa mengenal aku, aku mengenal Bapak, begitu juga aku mengenal domba-dombaku dan merekapun mengenal aku. Aku menyerahkan nyawaku untuk mereka”

Siapa yang di maksud gembala yang baik dalam Alkitab.?

Allah disebut sebagai gembala yang baik memelihara domba-dombaNya, sehingga mereka tidak kekurangan suatu apapun( Mazmur 23 ). (Nabi Isa) adalah gembala yang baik (Yohanes 10:12). “Maka kamu apabila gembala Agung datang kamu akan menerima mahkota kemuliaan yang tidak dapat layu” Artinya jika kita berada dalam lingkungan sang gembala dan kita menjadi domba, yang di bimbing, di ajarkan kebaikan, mematuhi aturan kebaikan maka kita akan ada dalam kebaikan, hidup dalam damai dan jalan lurus.

Peran gembala melayani jemaah/umat, bertanggung jawab mengembalakan yang di gembalakan, memelihara dan melindungi. Jadi gembala adalah Budak Angon (pemimpin) yang bertugas melayani masyarakat untuk mencapai masyarakat makmur, damai, sejahtera, sehat lahir batin, selamat dunia ahirat. Pemahaman Budak Angon antara Uga Wangsit Siliwangi dan Alkitab memiliki persamaan makna, tujuan dan harapan. Artinya keterangan dari beberapa kitab sangat selaras dan memiliki benang merah.

Para ulama Islam berpendapat para Nabi di berikan ilham oleh Allah untuk mengembalakan kambing sebelum mereka terpilih mejadi Nabi. Nabi Daud juga menjadi gembala, Nabi Musa bertemu istrinya pada saat menjadi pengembala kambing, Nabi Muhammad semasa kecil menjadi pengembala kambing, Umar bin Khattab juga seorang pengembala kambing alias Budak Angon.

Baca Juga  Banjir Kembali Genangi 18 Titik di Kota Cilegon, PPMC Desak DPRD dan Wali Kota Panggil Pihak KS

Mengapa Allah memberi tugas setiap yang akan menjadi pemimpin harus menjadi pengembala kambing? Sebagai pengembala (Budak Angon), memiliki sifat sabar, taat waktu, taat tata aturan, bertanggung jawab, penuh kasih sayang. Budak angon di didik di alam terbuka, padang rumput hijau harus di jaga, di rawat dan di ciptakan untuk makanan kambing. Tuhan mendidik lahir batin agar sang gembala agar menjadi pengembala yang baik yang membawa hewan gembalanya sehat, sejahtera, tidak kekurangan makanan rumput dan dapat berkembang biak dan akhirnya dari hewan kambing banyak manfaat yang di ambil.
Menurut Hadis dari Abu Hurairah dari Rosullah bersabda, “Tidakah Allah mengutus seseorang nabi kecuali dia memelihara kambing”. Para sahabat bertanya dan Engkau? Lalu Rasullah menjawab, Benar, Aku pernah memelihara kambing dengan upah beberapa girath bagi penduduk Makkah.

Banyak nilai budipengerti, budidaya, dan budikarya, budikarsa budirasa yang Allah berikan pada seorang Budak Angon.
Budak Angon adalah cara membentuk karakter manusia menjadi kalifah di muka bumi dengan membawa misi Tuhan, misi alam semesta. Pelajaran alam dengan menyatu pada mahluk lain akan membentuk karakter seorang pemimpin yang penuh cinta kasih. Konsep pendidikan menjadi seorang gembala/Budak Angon inilah dapat membentuk karakter dan sifat baik, bijak, mulia pada diri seseorang.

Dalam Wangsit Siliwangi di jelaskan:
“Budak Angon ……
Ari anu di angon na lain kebo, lain embe, kuda lain sapi, nyak eta kalakai reujeung tutunggul” Artinya bukan secara fakta nyata hewan kambing yang di angon namun daun dan Tutunggul. Daun kering yang terbuang berserakan, tidak berguna, suatu hal yang tidak harus di buang tapi oleh budak Angon menjadi nilai yang bermanfaat besar. Tetunggul bisa di artikan akar kayu yang mati, sisa tebangan kayu yang mati namun di tangan budak angon akan jadi nilai kebaikan. Artinya suatu nilai kebaikan, nilai budidaya yang lawas, dahulu kala, pada zaman ini tidak di pakai, bahkan kuno, di remehkan, ketinggalan zaman, padahal inilah berlian, mutiara dan emas yang dapat menjadi rumus menuju kebaikan, kejayaan kehidupan.

Budak Angon sangat menjaga dan tetap melestarikan nilai kuno, nilai yang di tinggalkan nenek moyang yang menjadi obat untuk memperbaiki kerusakan kehidupan. Nilai- nilai awal/wiwitan yang dapat kembali menjadi alat penyadaran manusia.

Oleh karena itu tulisan ini harus menampilkan kembali dasar dalam Keterangan kitab, sejarah nabi, dan sejarah para karuhun Sunda.

Dalam pandangan Buddha Budak Angon adalah seorang yang dapat menaklukan beribu ribu musuh dalam beribu kali pertempuran, namun sesungguhnya penakluk sejati adalah yang dapat menaklukan dirinya sendiri ( Dhammapada:103 ).

Sangat selaras dengan pendapat saya sebagai penulis, bahwa Budak angon harus dapat mengangon diri sendiri, mengangon pikiran, hati, rasa sehingga dapat berucap, berprilaku, dan melangkah penuh kebaikan. Sifat cinta kasih/nyaah nu senyakna (sayang yang tulus). Jika Budak Angon sudah mampu memelihara dirinya, welas asih pada dirinya, bijaksana pada dirinya, jujur pada diri dirinya mampu memberi makanan hati, jiwa sendiri, pastinya sikap pada orang lain akan sama seperti bersikap pada diri sendiri. Memandang orang lain sama seperti memandang dirinya, memperlakukan orang lain sama seperti memperlakukan diri sendiri. Hal ini disebut tingkat kesadaran yang tinggi. Karakter inilah yang sangat pantas menjadi pemimpin yang dapat membawa pada zaman Rahmatan lilalamin. “harirup bari jebar senang sugih mukti” ( Husin Al banjari, b127)
Inilah misi kepemimpinaan Sunda dengan konsep Budak Angon.

Baca Juga  Dapur Umum Desa Cikidangbayabang Bagikan 500 Nasi Kotak

Kepemimpinan dalam Buddha harus melaksanakan “Dasa Raja Dharma” Yaitu sepuluh Dhamma yang di jadikan dasar untuk menjadi pemimpin diantaranya yaitu kemurahan hati, memiliki moral yang baik, rela berkorban, ketulusan hati, ramah tamah, sederhana, tidak pemarah, tidak melakukan kekerasan, memiliki kesabaran, tidak menentang kebenaran. Sepuluh hal di atas jika di miliki seorang pemimpin maka kesuksesan akan tercapai menuju tujuan. Sikap dan karakter di atas harus di pupuk, di rawat dan terus di siram agar tumbuh subur. Artinya seorang pemimpin dalam Buddha harus dapat mengembalakan dirinya sendiri, menjadi Budak Angon untuk diri sendiri.

Semoga tulisan ini dapat membuat tingkat kesadaran kita bertambah hingga kita melaksanakan sifat dan karakter yang baik. Terutama generasi muda Milenial agar dapat menjadi Budak Angon yang di harapkan oleh masyarakat, bangsa dan negara. Siapapun dapat menjadi budak angon, profesi apapun kita adalah Budak Angon di bidangnya. Ingat manusia di turunkan ke bumi adalah sebagai khalifah, turun ke dunia sebagai pengembala.

Untuk melatih generasi muda milenial zaman ini, agar tumbuh karakter Budak Angon harus di berikan nasehat, pendidikan, bahkan aplikasi nyata berternak hewan, bisa di bidang perternakan ikan, domba, ayam dan lain lain. Harapan putra putri bangsa menjadi Budak Angon sejati, dapat menjaga, mempertahankan dan mengelola sumber alam bumi tercinta dengan baik.

KIDUNG BUDAK ANGON

Ciptaan: Ambu Rita Laraswati

Ahung…..
Ahung Sanghyang Agung
Majing kana waktunya
Ninggang kana
mangsana.
Kaasih sajati lungsur ti Gusti ….
Kawelas sajati lungsur ti Gusti….
Kaweningan sajati lungsur ti Gusti…
Kawangian sajati lungsur ti Gusti….

Ahung…….
Doa indung jadi jimat
Doa bapak jadi ubarna
Ngalengkah sing pancek
Anaking….. Budak Angon
Geura tandang makalangan….
Bral…. Bral geura miang.
Tanjeurkeun kebeneran
Pancek dina jalur.
Akur jeung dulur.
Ngolah negeri lemah cai
Angon sejati na kahirupan
Make sifat Siliwangi….

Angon diri sangkan pendak jati diri.
Angon pikir sangkan hirup ulah kikir.
Angon hate sangkan bersih hate.
Angon rasa sangkan boga rasa sejating rasa. Rasa mirosea nilai budaya karuhun nu Agung.

Budak Angon, angon diri, tata diri.
Jajarkeun jangjang keadilan.
Jajarkeun diri ka sekaum mahluk Ciptaan Gusti.

Eling pada eling.
Eling diri, eling Gusti
Budak Angon nu di angon Gusti.
Gusti pengagon sejati.
Bral…. Tandang Makalangan.
Budak Angon sinatria Sunda.
Sinatria ti tatar Pasundan.
Kujang nyurup kana raga.
Sinatria pilih tanding
Mawa bagja, sampura jaya, mawa kerahayuan.
Rahayuuu….3x

Garut, 24 Januari 2023

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here