Tugu Perjuangan di Mande, Penanda Gugurnya 53 Pejuang Melawan Belanda

0

KAB. CIANJUR. FOKUSPRIANGAN.ID – Monumen Sejarah yang saat ini berada di Cihonye, Desa Mande menjadi Simbol warga Mande, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Bersama Pasukan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) yang melawan Pasukan Tentara Belanda pada agresi militer Belanda 2.

Pada masa itu, menurut anak dari pelaku sejarah, Mamad (68) dari cerita ayahnya, mengatakan bahwa ada sekitar 53 Pejuang Tentara Keamanan Rakyat ( TKR ) yang gugur.

“Jadi cerita awal tugu perjuangan yang berada di Cihonye itu, berawal dari perlawanan agresi militer ke 2, namun saya tidak begitu mengetahui tahun berapa kala agresi militer itu, mungkin sekitar tahun 1948. Pada masa itu, para tentara keamanan rakyat, menghadang pasukan Konvoi Belanda dari Bandung menuju Jakarta, dengan peralatan sederhana dan memanfaatkan pepohonan yang banyak tumbuh dan besar, pada waktu itu ayah saya yang bernama Sarben mempunyai gergaji yang berukuran 1,5 meter dan di gunakan bersama pejuang lainnya menebang pohon yang kemudian dari atas tebing di jatuhkan ke jalan dengan tujuan agar dapat menghadang kendaraan perang Belanda,” kata Mamad sembari mengingat cerita Ayahnya, saat di jumpai di rumahnya, pada Minggu, (08/08/21).

Lanjut Mamad,” Penghadangan pertama tentara Indonesia berhasil namun karena jumlah pasukan Belanda saat itu menggunakan peralatan memadai dan jumlah pasukan yang banyak akhirnya pasukan Indonesia harus melawan dengan peralatan sederhana, dan di masa itu sebanyak 53 pasukan tentara keamanan rakyat ( TKR ) akhirnya gugur, namun pemimpin pasukan Jendral Nasuhi berhasil lolos,” sambung Mamad.

Mamad mengungkapkan, bahwa pada masa itu, tidak sedikit tentara Belanda yang berjatuhan namun kemudian di evakuasi oleh tentara Belanda lainnya ke atas truk, sedangkan tentara Indonesia yang gugur di biarkan begitu saja, karena darurat akhirnya tentara keamanan rakyat yang masih berjuang memakamkan tentara yang gugur di tempat yang saat ini terdapat monumen tersebut.

Baca Juga  Ketua Fraksi Demokrat DPRD Kabupaten Sukabumi Jenguk Ajudin Korban Keganasan Begal di Cikakak

“Untuk mengenang sejarah maka oleh para peteran kemudian dibuatlah monumen tersebut,” ungkapnya.

Mamad juga menjelaskan bahwa monumen didekat jalan desa Mande, itu merupakan monumen yang dibuat baru baru ini, hal itu di katakannya untuk memudahkan para warga yang melintas agar mengetahui bahwa ada sejarah di Kecamatan Mande.

“Monumen sejarah hanya ada satu, monumen yang dibangun tepat dimana 53 pejuang di makamkan, yaitu di pasir Cihonye, nah jika monumen yang dibangun di pinggir jalan desa adalah bangunan yang dibangun baru baru ini, hal itu untuk memudahkan para warga yang melintas agar mengetahui bahwa ada sejarah Perjuangan di wilayah yang saat ini masuk wilayah Desa Mande, ” jelasnya.

Sementara seorang warga yang juga pengajar sekolah dasar di Mande, Ibu Ayi, demi mengingatkan sejarah di Mande, dirinya selalu menggelar acara di bulan Agustus untuk mengenang dan menceritakan kembali sejarah perjuangan yang ada di Mande.

“Saya selalu bercerita kepada anak-anak mengenai perjuangan sejarah kemerdekaan yang ada di Mande, kebetulan ada Pa Mamad yang menjadi teman mengobrol saya untuk merangkai cerita,” tutur ibu yang orangtuanya juga menjadi pelaku sejarah perjuangan di Mande. (Andri.S)

Bagaimana tanggapan anda ?
+1
+1
+1
+1
+1
+1
+1

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here