Fokus Cianjur Sosial

Pengelola Kawasan Wisata Cibodas Diduga Halangi Kinerja Pewarta

KAB.CIANJUR, FOKUSPRIANGAN.ID – Di tengah masa pandemi lokasi wisata turut mendapatkan pengawasan serius lantaran bisa menimbulkan kerumunan yang berpotensi menyebarkan virus covid-19 jika tidak dibarengi standar protokol kesehatan. Mirisnya pihak pengelola kawasan wisata Cibodas terkesan tidak menghargai wartawan, pasalnya saat awak media ingin meliput tugasnya sebagai jurnalis, pihak pengelola harus membuat surat resmi peliputan dari perusahaan redaksi. Jumat (30/10/20).

karena patut diduga menghalangi kerja awak media karena harus membuat permohonan Peliputan untuk dijawab beberapa hari kemudian dan melarang pengambilan gambar di lokasi keramaian tersebut.

Pihak pengelola yang terkesan menghalang halangi salah satu awak media online itu terjadi pada hari Kamis,( 29/10/2020) kemarin, Dikatakan Pihak pengelola bahwa peliputan harus berijin dan sebelumnya harus memberikan surat peliputan dari kantor media dan barulah dapat meliput setelah surat diterima dan di jadwalkan kapan peliputan dimulai.

“Pengelola Manager Oprasional Wisata Alam itu mengambil gambar surat tugas dan KTA awak media tersebut dengan menggunakan telfon selulernya. Namun setelah pihak pengelola mengambil gambar surat tugas dan tanda pengenal bukan di ijinkannya masuk, pihak pengelola itu malah menghadapkan Security untuk menjelaskan kepadanya bahwa tidak bisa melakukan peliputan,” ucapnya salah satu wartawan saat akan melakukan peliputan

Mirisnya lagi. Pihak keamanan ( Security ) mengijinkannya masuk namun peralatan yang di bawa para awak media itu harus di titipkan.

“Iya , kemarin tepatnya hari Kamis tanggal 29 Oktober 2020 saya dan rekan saya yang masih satu media hendak melakukan peliputan di salah satu wisata alam yang ada di Kabupaten Cianjur, namun alih alih mendapat informasi atau sambutan yang hangat kami malah di hadapkan dengan security oleh manager tempat wisata tersebut.” jelasnya.

Sebelumnya wartawan sempat meminta ijin pengambilan gambar kepada Manager tempat wisata tersebut, namun pihak pengelola wisata tersebut mengatakan bahwa peliputan tidak bisa secara langsung harus ada penjadwalan dengan mengirimkan surat dari kantor medianya, baru setelah surat diterima bisa di jadwalkan untuk pengambilan gambar

“Pihak Pengelola tersebut juga meminta saya untuk menunjukan surat tugas saya, kemudian dia mengambil gambar surat tugas saya dengan ponselnya, saya mengira setelah surat tugas dan Id card di fhoto, mereka akan mengijinkan saya meliput, pihak pengelola malah menghadapkan security kepada saya.” paparnya.

Sementara itu, setelah berita tentang Wisata itu terbit, pihak pengelola melalui Sales Executive Resty Permatasari mengundang awak media fokuspriangan untuk datang ke wisata itu, dan pihak wisata alam itupun meminta maaf kepada media fokuspriangan, di katakan Resty bahwa peristiwa tersebut terjadi karena adanya miss komunikasi antara media dengan pihak pengelola.

“Kami meminta maaf atas peristiwa yang bapa alami kemarin, ini bentuk koreksi dalam pelayanan kami, dan kami akan membuat lebih nyaman lagi dalam pelayanan, dan apa bila bapa bapa nanti ingin meliput lagi , bapa bapa bisa menghubungi saya.” tandasnya Resty yang di dampingi Rudi sebagi Viscos dan Marcom, di area wisata.

Adanya kejadian tersebut, Rikky YH selaku Ketua Media Center Bravo Komando angkat bicara, sesuai dengan UU 40 Tahun 1999 Tentang Pers disebut bahwa pers memiliki kemerdekaan dalam menjalankan profesinya. Dalam hal mencari, memperoleh dan menyebarluskan informasi. Sehingga tidak boleh dihalangi apalagi jika menyangkut kepentingan publik.

“Pelaku usaha tadi harus menyampaikan permintaan maaf secara terbuka karena patut diduga sengaja menghalangi kerja jurnalistik. Sebab Jurnalis sudah menjalankan tugasnya dengan profesional.” tutupnya Rikky YH. (Tim)

Flag Counter

Berita Populer

Flag Counter