Fokus Kota Banjar Pariwisata Sosial

Manuk Janur Warisan Budaya Desa Cibeureum

Reporter: Zaenal Abidin

KOTA BANJAR.FOKUSPRIANGAN.ID- Manuk Janur kesenian asli Desa Cibeureum, salah satu dari tiga kesenian khas Kota Banjar yang masuk dalam Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) oleh Kemendikbud.

Nurdin Ahmad Sudiaman, salah seorang pembina kesenian Manuk Januk, menjelaskan semua hal terkait kesenian Manuk Janur. Pria yang biasa dipanggil Pak Nur ini menjelaskan secara detail mulai dari latar belakang terbentuknya kesenian ini, proses pembuatan sampai prestasi yang sudah diraih.

Ia menjelaskan, Manuk Janur memanfaatkan bahan baku dari alam, kemudian dibentuk sedemikian rupa sehingga menyerupai replika burung garuda raksasa. Dalam proses pembuatannya, Manuk Janur yang terbuat dari bambu, tempurung (batok kelapa), dan anyaman daun kelapa (janur) ini bisa memakan waktu selama empat hari, serta menghabiskan lebih dari 20 pohon kelapa.

“Cikal bakal kesenian Manuk Janur adalah Manuk Kararas (daun pisang yang kering), yang diprakarsai oleh Pak Hendi, salah seorang pelaku seni di Desa Cibeureum. Kemudian pada tahun 2014 terciptalah Manuk Janur ini,” kata Pak Nur. Rabu (9/9/2020).

Lebih lanjut Pak Nur menjelaskan, kesenian Manuk Janur awalnya untuk membahagiakan pengantin sunat, atau dalam bahasa Sunda disebut acara turun mandi. Anak-anak yang akan disunat akan dimandikan terlebih dahulu kemudian diarak sambil menaiki Manuk Janur. Butuh empat orang dewasa untuk mengangkat Manuk Janur ini.

“Di SK- kan oleh Walikota Banjar pada tahun 2018,” jelas Pak Nur.

Dalam perkembangannya, Manuk Janur bukan hanya ditampilkan dalam acara turun mandi saja. Kesenian ini mulai berani tampil dalam event-event lokal ataupun Nasional. Seperti dalam helaran hari jadi Kota Banjar atau dalam peringatan HUT Kemerdekaan Indonesia.

“2014 diundang saat acara hari jadi Kabupaten Garut, kemudian 2016 mewakili Kota Banjar di tingkat Provinsi, 2017 diundang dalam acara ulang tahun Taman Mini Indonesia Indah (TMII),” papar Pak Nur.

Dalam penampilannya, Manuk Janur yang menyerupai replika burung garuda akan diangkat oleh empat orang pemain dan satu orang menaiki Manuk Janur. Saat diarak, para penari akan mulai menari mengikuti alunan musik Sunda, seperti dijelaskan Pak Nur.

“Minimal sembilan penari akan mengiringi Manuk Janur. Tapi, jumlah penari bisa bervariasi, tergantung permintaan dan event yang akan dilangsungkan. Kalau event besar jumlah penarinya bisa sampai 20 orang lebih. Untuk tarian, kita memgadopsi tarian Sunda, begitupun alat musiknya,” kata Pak Nur.

Pak Nur berharap, generasi muda di Desa Cibeureum bisa melestarikan kesenian ini. Sebab kata Pak Nur, dengan melestarikan kesenian ini, selain untuk memotivasi dan berinovasi dalam kesenian Manuk Janur. Kelak, warisan budaya ini akan menjadi warisan turun temurun untuk generasi-generasi selanjutnya.

“Manuk Janur harus terus dikembangkan dan dilestarikan. Ini adalah kabanggan masyarakat Desa Cibeureum,” tutur Pak Nur.

Berita Populer

Flag Counter
Flag Counter