Fokus Kota Banjar Pemerintahan Sosial

Dinkes Banjar Mengimbau Masyarakat Agar Bijak Memilih DAMIU

Reporter: Zaenal Abidin

KOTA BANJAR. FOKUSPRIANGAN.ID Depot Air Minum Isi Ulang (DAMIU) menjadi salah satu alternatif yang dipilih untuk memenuhi kebutuhan air minum keluarga, khususnya masyarakat di daerah perkotaan. Dewasa ini, banyak bertebaran perusahaan depot air minum isi ulang sehingga tidak sulit untuk menemukannya. Salah satu faktor pendukung laris manisnya perusahaan air minum isi ulang ini, karena harga yang ditawarkan lebih murah daripada membeli air minum dari merk terkenal.

Kepala Bidang Sumber Daya Kesehatan pada Dinas Kesehatan Kota Banjar, melalui Kasi Kesehatan Lingkungan, Kesehatan kerja dan Kesehatan Olahraga, Rusyono, mengungkapkan, Dinas Kesehatan Kota Banjar menerapkan prosedur yang ketat dalam memberikan ijin terhadap para pelaku usaha depot air minum isi ulang ini. Pengusaha DAMIU di Kota Banjar diharuskan mentaati regulasi higienitas dan sanitasi yang sudah ditetapkan dalam Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia, no. 43 tahun 2014.

“Air bersih yang biasa kita gunakan untuk mandi dan cuci mempunyai kandungan E. coli 50 per 100 mililiter. Adapun untuk air minum, kandungan Bakteri Escherichia coli (E. coli) dalam air tersebut harus memenuhi standar 0 per 100 mililiter. Harus 0 per 100 mililiter,” tegas Rusyono saat ditemui Fokuspriangan.id di ruang kerjanya. Rabu (26/8/2020).

Lebih lanjut, Rusyono menyampaikan, pembinaan dan pengawasan terhadap para pelaku usaha DAMIU terus dilakukan sebagai upaya Dinas Kesehatan Kota Banjar dalam menjamin kelayakan air minum yang beredar di masyarakat. Oleh karena itu, setiap tiga bulan sekali pihaknya melakukan pemeriksaan eksternal kepada para pengusaha DAMIU. Pemeriksaan eksternal dilakukan dengan mengambil sampel air dari tiap DAMIU kemudian selanjutnya dilakukan pengecekan laboratorium untuk mengetahui kadar E.coli didalamnya.

“Ada sekitar 50 an DAMIU di Kota Banjar. Karena ruang lingkup Banjar tidak terlalu luas, alhamdulillah hampir bisa terawasi semua,” kata Rusyono.

Kendati demikian, Rusyono tidak menampik masih ada pengusaha DAMIU yang nakal. Menanggapi hal tersebut, Rusyono menegaskan, semua resiko dan tanggung jawab ada pada pihak pengusaha DAMIU.

“Untuk bahan baku air, kita sarankan bersumber dari mata air atau dari PDAM yang dikirim melalui tanki, bukan yang melalui pipa rumah tangga dan atau dari sumur bor. Ini untuk mengantisipasi dari pencemaran bakteri,” jelasnya.

Pihaknya tidak menyarankan penggunaan sumur dangkal sebagai bahan baku air. Rusyono menjelaskan, penggunaan sumur dangkal sebagai bahan baku sangat beresiko tercemar bakteri. Adanya kandungan bakteri E. coli dalam air adalah indikator air tersebut sudah tercemar.

“Lantas bagaimana masyarakat bisa mengetahui depot mana yang sudah melalui pengawasan Dinkes? Gampang, silahkan lihat di depot tersebut terpasang stiker dari Dinkes atau tidak. Kalau tidak ada, berarti depot tersebut belum melakukan apa yang dianjurkan oleh Dinkes,” Tutup Rusyono.

Berita Populer

Flag Counter
Flag Counter