FOKUS SUKABUMI Sosial

Gelombang Tinggi Landa Pesisir Selatan Sukabumi, Ribuan Nelayan Terpaksa Tidak Melaut

Reporter: Rusdi

SUKABUMI.FOKUSPRIANGAN.ID – Tingginya gelombang laut yang terjadi selama satu pekan terakhir, selain membahayakan nelayan yang melaut, juga merusak perahu- perahu milik nelayan. Setidaknya tercatat sebanyak 50 perahu milik nelayan hancur akibat amukan gelombang laut yang tidak bersahabat. Ribuan nelayan di Sukabumi terpaksa tak melaut. Mereka memilih untuk menghabiskan sisa simpanan tabungan mereka atau menjual barang-barang berharga untuk menyambung hidup. Menurut data yang diperoleh dari Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Sukabumi kurang lebih tercatat ada sebanyak 2.000 nelayan tidak melaut dan 50 perahu nelayan. Melihat kondisi itu nelayan hanya bisa pasrah sambil menunggu cuaca kembali membaik.

Perhatian pemerintah kepada nelayan pun nihil tidak ada. Para nelayan seperti dibiarkan menelan pil pahit akibat cuaca ekstrim ini. “Pasang rob juga masuk hingga ke kawasan nelayan merusak perahu nelayan yang tertambat di pesisir. Beberapa di antaranya rusak bahkan terbelah menjadi dua,” kata Yadi, ketua paguyuban nelayan Ujunggenteng, Kabupaten Sukabumi, Jumat (29/5/2020).

Yadi membenarkan, saat ini hidup nelayan kembang-kempis karena dengan berhenti melaut sama artinya dengan tidak ada pemasukan. Perhatian pemerintah dikatakan Yadi belum terlihat, bahkan petugas Tempat Pelelangan Ikan (TPI) yang disebutnya sebagai kepanjangan tangan dari Dinas Kelautan Kabupaten Sukabumi belum ada yang datang melihat.

“Perhatian dari pemerintah enggak ada, pegawai TPI juga belum ada yang datang meninjau. HNSI juga enggak ada, hanya bertanya jumlah kerusakan, kalau melihat langsung belum. Kalau perahu rusak di sini saja ada sekitar 15 perahu, jauh lah kalau (berharap) diganti oleh pemerintah,” keluhnya.
Sekretaris DPC HNSI Kabupaten Sukabumi Ujang Sulaeman membenarkan sudah sepakan ini gelombang tinggi merata terjadi di pesisir laut selatan. Pihaknya telah mengeluarkan imbauan terkait larangan melaut.

“Hampir sekitar 70 persen nelayan tidak melaut, imbauan kita lakukan soal gelombang tinggi hal ini untuk menghindari insiden yang kerap terjadi. Nelayan jangan jadi korban lagi, kalau dihitung (yang tidak melaut) bisa sampai 2.000an bahkan lebih,” papar Ujang. Soal kerusakan perahu, Ujang juga berharap ada bantuan untuk penggantian. Mereka yang telah di data akan masuk skala prioritas ketika bantuan datang. “Catatan kami ada sekitar 50 perahu nelayan yang rusak, khusus untuk Ujunggenteng, kontur lautnya berbeda dengan yang lain. Laut dangkal, ketika ada pasang rob semakin besar dan memang belum ada tempat sandar perahu di lokasi itu,” katanya.

Berita Populer

Flag Counter
Flag Counter