Fokus Jakarta Sosial

Lebaran Kali Ini Terasa Sempit, Hanya Mi Instan dan Sekaleng Biskuit Murah Hiasi Diatas Meja Pajangan

Reporter:Nur Azizah

Oleh : Rudy Darmawanto, Aktivis, Pengamat Sosial, Kader Senior Golkar

JAKARTA.FOKUSPRIANGAN.ID – Umat Muslim di seluruh Indonesia merayakan lebaran kali ini di tengah suasana pandemi virus corona (Covid-19) yang belum berakhir di negeri ini. Seperti halnya saat menjalani ibadah Ramadhan, perayaan Idul Fitri tahun ini memang terasa berbeda. Karena pandemi virus corona, umat Islam memang bisa merayakan lebaran namun dalam suasana keterbatasan dan harus memperhatikan protokol kesehatan. Umat dianjurkan untuk tidak menggelar shalat Idul Fitri berjamaah di lapangan atau masjid tetapi menjalankannya di rumah masing-masing.

Anjuran yang disampaikan pemerintah tersebut sangat mungkin menjadi sesuatu yang dianggap “ mengekang”oleh sebagian warga. Akan tetapi karena dimaksudkan untuk kebaikan, yakni untuk memutus mata rantai penularan Covid-19, kita sebagai warga selayaknya mematuhi anjuran itu. Kepatuhan atas anjuran ini sejatinya masih dalam kerangka ibadah, mengingat tujuannya untuk mencegah terjadinya kemudharatan (keburukan) berupa penyebaran virus.

Menurut Rudy Darmawanto, selaku Aktivis, Pengamat Sosial, Kader Senior Golkar, menyampaikan Iedul fitri (lebaran) Atau Hari kemenangan Tahun ini Terasa Kalah Banyak mata yang basah dengan linangan air mata kala mengenang lebaran tahun-tahun sebelumnya yang mereka lalui dengan senyum lebar kemenangan, lebar rezeki, lebar ibadah dan lebar merdeka.

Iedul fitri didepan mata rakyat kini hanya lebaran fatamorgana, lebaran kosong dan lebaran yang dipenuhi dengan kebohongan, Dusta dan keniscayaan.

Menurutnya, Shalat tarawih berjamaah dimasjid selama ramadhan dan shalat I’ed berjamaah dimasjid serta gemuruh Takbir sebagai ungkapan kemenangan menjalani puasa tak bisa lagi mereka jalani.”Takmir Dan pengurus masjid terancam sanksi jika menyelenggarakan shalat berjama’ah, padahal di hypermart, di minimart, di pasar, orang-orang dibolehkan berkumpul dalam satu ruangan dan antri didepan kasir melebihi rapatnya shaf dalam shalat.

Pada hari lebaran kemarin, jutaan anak-anak kecil rakyat tak lagi mendapatkan baju baru dan sepatu baru.” Impian anak kecil mendapat uang salam Ala lebaran pun harus pupus dari harapan karena tak ada lagi pintu rumah yang dibuka untuk sekedar bersalam lebaran sebab saling berkunjung pun tak diperbolehkan.

Para ibu-ibu rakyat kecil berlinang air mata karena banyak yang tak mampu memperoleh daging untuk dimasak.
Banyak yang tak mampu lagi menyajikan kue khas lebaran walau hanya setoples kecil, tak ada dana tersisa untuk itu. Gaji serta pendapatan para suami banyak yang dipotong separuh dan sebagian lagi bahkan lenyap seluruhnya karena tak lagi ada pekerjaan,”ucap Rudy Darmawanto, Aktivis, Pengamat Sosial, Kader Senior Golkar.

Tradisi membeli kue-kue seperti lebaran sebelumnya kini tinggal kenangan, uang yang tersisa hanya untuk membeli mie instan, jika beruntung, sekaleng biskuit murah pun dari Baksos sudah menjadi kue mewah untuk dihias diatas Meja pajangan.

Ribuan orang tak bisa mudik atau pulang kampung, tak dapat bertemu orang tua, tak bertemu istri/suami, anak, sanak saudara dan kerabat, padahal keadaan diperantauan jauh lebih buruk, ancaman terusir dari kontrakan Dan Kos2an pun hanya tinggal menunggu waktu.

Bagitu banyak kini yang tak lagi mampu memimpikan ketupat di Hari Raya.

Berharap Ketupat dari Penguasa hanyalah sebuah harapan kosong, harapan hampa yang menambah rasa sesak di dada.

Betapa banyak mereka yang lapar saat ini dulu hidup dalam kecukupan, jika hari ini menjadi miskin untuk pertama kalinya bukan karena mereka pemalas, namun karena mereka dimiskinkan oleh pemegang amanah kesejahteraan yang dulu mereka percaya.

Mereka tak terbiasa meminta-minta seperti para pengemis yang diturunkan dari truk disetiap hari raya, tapi mereka sengsara karena dihianati pengendali kekayaan negeri milik mereka sendiri.

Untuk hari Lebaran yang sudah tiba, mari buka mata dan hati kita pada mereka yang terhimpit beban derita akibat pandemi Covid 19.

Bagi yang mampu, berbagilah
Bagi yang punya, bersedekahlah
Berbagilah Dan pedulilah apa yang kita bisa dan semampu yang kita punya.
Sesungguhnya puasa yang Allah wajibkan atas kita di Ramadhan ini sejatinya agar kita senantiasa ingat pada perut-perut yang lapar.

Berbagi dengan mereka yang tengah hidup dalam susah itulah inti sari puasa yang kita persembahkan pada Rabb kita hari ini .

Dengan sedekah dan berbagi rezeki yang berlebih itulah insyaAllah akan menjadi kunci sukses dan diterimanya ibadah puasa ramadhan kita ..

“Selamat Hari Raya Iedul Fitri 1441 Hijriyah”. Mohon maaf Atas segala salah dan khilaf serta menyinggung perasaan, saya mohon Maaf Lahir dan Batin.

Semoga Allah Subhanahuwatallah menerima seluruh amal ibadah kita

Salam Takjim

Berita Populer

Flag Counter
Flag Counter