Boles (Bola Seuneu) dan Pencak Silat Tampil di Festival Budaya Muhtesem Endonezya Turki

0

Teks Photo: Penampilan Bola Seuneu Dan Pencasilat PS Sang Maung Bodas Dari Sukabumi

Pewarta : Eka Lesmana

SUKABUMI.FOKUSPRIANGAN.ID – Festival seni budaya di Turki bertajuk ‘Muhtesem Endonezya’ kembali diselenggarakan tahun ini. Pertunjukan yang digelar di Sakarya University, Turki, pada 24 November 2023 tersebut bertujuan untuk memperkenalkan budaya Nusantara kepada publik Internasional, salah satunya Turki.

Dalam perhelatan tahun ini, beragam kesenian dan tradisi khas Indonesia mulai dari tarian, nyanyian, seni bela diri, fashion hingga kuliner lokal dihadirkan di sana.

Tak ketinggalan, kesenian asal Sukabumi yakni permainan Boles alias bola tangan api turut memeriahkan festival yang digagas Perhimpunan Pelajar Indonesia di Sakarya University itu.

Penampilan Boles diiringi dengan pencak silat dan cambuk api dari Perguruan Silat Sang Maung Bodas. Guru besar PS Sang Maung bodas KH Fajar Laksana mengatakan, selain Boles, jurus pencak silat khas Golok Kala Petok juga ditampilkan di sana.

“Kita setiap tahun diundang oleh Sakarya Uninversity Turki untuk menampilkan salah satu seni budaya keunggulan khususnya di Jawa Barat dan di Kota Sukabumi yaitu main bola api (Boles), cambuk api, dan Golok Kala Petok,” katanya kepada Media Pakuan, Minggu (03/12/23).

Perjuangan untuk bisa tampil di festival tersebut menurutnya tidaklah mudah. Misalnya, harus mengirim bahan-bahan untuk kesenian Boles dari Indonesia seperti batok kelapa, minyak tanah, dan tali untuk cambuk api.

Hal tersebut bisa terlaksana juga karena kerja keras dari mahasiswa Indonesia di Sakarya University yang sudah mengembangkan Boles dan pencak silat sejak 5 tahun lalu.

“(Bahan-bahan) dikirim dari sini (Indonesia) ke Turki karena di sana seperti minyak tanah sudah langka jarang karena di sana udah pakai gas semua. Pohon kelapa juga udah jarang di sana karena memang beda musimnya dengan di Indonesia,” ujarnya.

Baca Juga  Emak Emak Kembali Gelar Unjuk Rasa Protes Jalan Raya Cikembar Rusak Dengan Menabuh Panci dan Alat Masak

Antusiasme warga di negara yang masuk benua Eropa dan Asia itu terhadap Boles dan pencak silat menurutnya cukup tinggi. Sehingga hampir tiap tahun sejak 2019, kesenian tersebut ditampilkan di sana.

Tercatat, Boles dan pencak silat aliran Sang Maung Bodas tampil di Muhtesem Endonezya pada tahun 2019, 2021, 2022, dan 2023. Pada 2020 ditiadakan lantaran masih dalam kondisi pandemi Covid 19.

“Pencak silat bukan hanya untuk olahraga bela diri tetapi juga untuk seni pertunjukan sehingga pencak silat itu menjadi bagian seni budaya khas Indonesia khususnya Jawa Barat dan Kota Sukabumi dan selalu diapresiasi mendapat penghargaan,” ucapnya.

“Luar biasa makanya memang diminta tampil satu tahun itu karena memang antusias warga Turki sangat memberikan apresiasi yang baik sehingga setiap tahun kita disuruh tampil,” jelasnya.

Sementara itu Ketua Dewan Perwakilan Negara (DPN) PS Sang Maung Bodas Turki Muhammad Irsyad Fatahillah mengatakan, penampilan Boles dan pencak silat telah dipersiapkan dengan matang oleh sejumlah mahasiswa di Turki demi bisa dipertunjukkan secara sempurna.

“Alhamdulillah kami sukses menampilkan Boles dan pencak silat kepada para hadirin di Muhtesem Endonezya. Total ada 15 pesilat yang ikut terlibat,” katanya kepada Media Pakuan, Sabtu 2 Desember 2023.

Makna Filosofis Boles

KH Fajar Laksana yang juga pencipta Boles menjelaskan, kesenian tersebut diadaptasi dari permainan Nyonyoo Seuneu (memegang api) yang sudah ada pada abad ke 13 hingga 15 masehi di era kerajaan Pajajaran.

Penjelasan itu terdapat di Kitab Suwasit yang tersimpan di Museum Prabu Siliwangi, yang berlokai di Ponpes Dzikir Al Fath Kelurahan Karang Tengah, Kecamatan Gunungpuyuh, Kota Sukabumi.

Permainan Boles dimaknai untuk menggambarkan kehidupan manusia yakni dalam usaha mencapai tujuan, manusia harus bisa mengendalikan hawa nafsunya.

Baca Juga  Polsek Garut Kota Polres Garut Lakukan Sosialisasi Perundungan Di Lingkungan Sekolah

“Bola lengen seneu (Boles) itu menggambarkan bagaimana kita bisa mengendalikan hawa nafsu. Hawa nafsu digambarkan dengan api, api dipermainkan itu supaya kita tidak terbakar oleh api (atau) tidak terbakar oleh hawa nafsu untuk mencapai suatu tujuan yang sudah direncanakan. (maka) Kita festivalkan karena ini juga bagian dari warisan budaya kita,” ungkapnya.