Aliansi Umat Islam Garut: Turunkan Harga Gas Elfiji atau Turunkan Bupati Garut

Fokus Jabar Sosial

Pewarta : Aep Saepudin

KAB.GARUT. FOKUSPRIANGAN.ID – Akibat buntut di naikannya HET Gas Elfiji 3kg oleh Bupati Garut dari Rp. 16.400 menjadi Rp. 19.900 menuai banyak protes dari kalangan Elemen Pergerakan Masyarakat Garut, LSM, Tokoh Masyarakat, Tokoh OKP, Ormas bahkan Anggota DPRD Garut dari Komisi III telah melakukan Rapat Kerja dengan Dinas Perdagangan, Hiswana Migas dan Elemen Pergerakan belum lama ini.

Untuk menyikapi yang lebih serius karena harga HET Gas tersebut belum juga di turunkan oleh Bupati Garut, Beberapa Eleman Masyarakat yang tergabung dalam Aliansi Umat Islam Garut (AUI) pada hari Kamis, (30/03/2023). Bertempat di Masjid Daarut Taubah Jl. Sudirman Garut, Aliansi Umat Garut Menggelar Rakor (Rapat Koordinasi) dengan beberapa Simpul LSM dan Aktivis Pergerakan Garut.

Hadir sekitar 25 Simpul Aktivis Pergerakan seperti Dadang Chely dari Prodem, Dedi dari Parmusi, Yuli, Tintin dan Susi dari Aktivis Ema-Ema Garut serta puluhan nama lainnya yang tidak bisa disebutkan.

Agis Muhidin selaku Ketua Aliansi Umat Islam Garut menjelaskan bahwa tujuan dari Rakor ini adalah untuk membahas tentang kenaikan harga Gas Elpiji 3 kg, PERDA Anti LGBT, juga membahas tentang Inprastuktur Jalan yang rusak, berlubang yang telah banyak menelan korban. Sebagai seorang muslim, Kita harus tegas menyikapi 3 masalah ini, Sebagaimana Sabda Nabi Muhammad SAW, *Apabila melihat suatu kemungkaran, kita harus dapat merubahnya dengan tangan, jika tidak mampu harus mencegah dengan lisan dan jika tidak mampu juga harus benci dalam hatinya.”Ucapnya.

Selanjutnya di tuturkan Agis, Bupati boleh berbangga Kab. Garut telah mendapatkan Piagam Penghargaan dari Gubernur sebagai Kabupaten terbaik, tapi itu hanya pelaporan saja, faktanya dalam pelaksanaanya, Kab. Garut masih di indisikan adanya dugaan korupsi di dinas/instansi.”Katanya.

Untuk itu dalam Rakor ini Aliansi Umat IsIam Garut sebagai fasilitator untuk menampung aspirasi yang berkembang di masyarakat, silahkan Bpk/Ibu Elemen Pergerakan untuk menyampaikan masukan dan kritikannya terhadap Kebijakan Pemda Garut.” Imbuhnya.

Sementara Yuli juru bicara dari Pergerakan Ema-Ema Garut mengatakan, “Atas dasar apa Bupati menaikan harga gas elpiji 3kg, padahal dari Pertamina nya tidak ada kenaikan, apakah Bupati tidak punya hati nurani, di kala mau masuk bulan ramadhan dan idul fitri, eh malah harga gas naik, untuk itu saya meminta agar harga gas elpiji 3kg di turunkan lagi, kalau tidak turun maka pilihannya Bupati harus turun.” Tandasnya.

Lebih lanjut Yuli mengatakan bahwa Saya bicara lantang seperti ini, tidak untuk mencari perhatian, tidak untuk mencari panggung dan tidak untuk mencari ketenaran, tapi semata-mata kita berjuang untuk kepentingan rakyat, kasihan ema-ema dan bapak-bapak sudah susah cari nafkah sekarang malah harga gas di naikan.”Tandasnya.

“Terus apa hubungannya Hiswana Migas sampai ngotot ingin menaikkan gas tersebut, dia sangat arogansi menyatakan gas harus naik karena sudah 15 tahun belum naik, kalau tidak naik, maka gas akan langka di Kab. Garut.” Ujarnya.

Kenapa harus naik, sementara dari Pertaminanya juga tidak naik, terus kemarin waktu Raker dengan Komisi III, di sebutkan oleh anggota dewan, Katanya telah ditemukan adanya pangkalan yang fiktif, seperti di Cikajang, Singajaya, Limbangan, DLL. Cetusnya.

Hal yang sama di sampaikan oleh Dadang Chely dari Prodem Garut, “Sebenarnya harga HET Rp. 16.400 itu Agent dan Pangkalan sudah mendapatkan keuntungan, tapi faktanya banyak agent dan pangkalan menaikan harga di atas HET, yang aneh lagi kenapa Hiswana Migas Ngotot ingin menaikan harga dan Bupati menyetujuinya, ada apa dibalik itu semua…?,” Ungkapnya.

“Untuk itu Saya mengusukan agar Hiswana Migas di Bubarkan dan Bupati Rudy Gunawan harus di turunkan kalau Harga Gas Melon tidak di turunkan.” Sahut Kang Dadang Chely.

Tintin dari Perwakilan AUI Garut, menilai bahwa di balik kenaikan Gas tersebut di duga adanya oknum yang main mata dan main suap, sehingga kami melihat ada ke aroganan dari Ketua Hiswana Migas pada saat Raker di Komisi III seolah-olah ada yang membekengi mereka bahkan dia berani mengancam, kalau tidak naik, gas elpiji 3kg akan langka di Garut dan Orang AUI Garut akan di teke/pukul oleh salahsatu OKP. Tandasnya.

“Saya dapat informasi bahwa dari 17 Pangkalan, hanya ada 3 pangkalan yang rresni, sisanya 14 Pangkalan Fiktif. Terus ribuan Tabung Gasnya yang Fiktif dikemanakan.?. Jadi lebih baik pangkalan yang fiktif di hapus dan di ganti dengan pangkalan yang baru.” Cetusnya.

Seperti di kadungora ada DO tapi faktanya cuma warung yang tabung gasnya cuma punya 10 biji, padahal kuota untuk 1 DO berisi diatas 1000 tabung gas, ini benar-benar pelanggaran dan harus di proses secara hukum karena telah melakukan kebohongan Public.” Tegasnya.

Sementara Dedi dari Parmusi mengutarakan, “Itu semua adalah Akal-akalan dari HISWANA MIGAS, padahal setiap agent sudah punya keuntungan 1200/tabung dari Pertamina, jadi kenapa Hiswana Migas mesti ngotot pingin naik dan kenapa Bupati mengiyakannya …? Ungkapnya penuh tanya.

Kami menilai adanya dugaan suap dari Oknum Hiswana Migas kepada Bupati Garut, Indikasi Penyuapan selanjutnya adalah Gania selaku Kadis Perdagangan telah mengakui bahwa untuk di biaya study banding ke Kuningan, biaya operasional nya dari Hiswana Migas, maka ini masuk pada kategori penyuapan ke pejabat Public/Kadis. Maka Saya sependapat lebih baik Hiswana Migas di Bubarkan, kemudian kalau sampai harga Gas Elfiji 3 kg tidak di Turunkan, maka tuntutannya Bupati Rudy Gunawan harus di Turunkan.”Ujarnya.